Penyusunan isi dan pelaksanaan aturan dapat digolongkan dalam 4 kelas, yang masing-masing bisa diilustrasikan sebagai:

1. Pisau dapur: tajam ke bawah, tumpul ke atas

.

2. Sakabatou: tumpul ke bawah, tajam ke atas

.

3. Jian: tajam ke atas dan ke bawah

.

4. Shinai: tidak tajam kemanapun

.

.

(terinspirasi dari perbincangan di mobil dengan adik)

Mengirim email, sms, menulis di web tidak lengkap tanpa tanda  :-)    :-(     ^_^  dst. yang sering disebut dengan istilah emoticons. Dengan tanda-tanda khusus tersebut kita bisa memasukkan ekspresi emosi ke dalam tulisan kita.

Siapa bapak dari  :-)  dan  :-(   ?
Kapan dan dimana mereka dilahirkan?

// jawabnya gampang… baca aja akta kelahirannya…  :-)

Bapak dari  :-)  dan  :-(  adalah Scott E. Fahlman, seorang Research Professor of Computer Science pada Language Technologies Institute and Computer Science Department, Carnegie Mellon University.

Si kembar  :-)  dan  :-(  dilahirkan di CMU pada tanggal 19 September 1982.
Cerita kelahirannya bisa dibaca di sini, sementara arsip yang menyimpan bukti kelahirannya dapat dibaca di sini.

So, tahun ini  :-)  dan  :-(  sudah berusia 27 tahun.
Sudah cukup dewasa untuk kita gunakan secara dewasa pula dalam tulisan-tulisan kita.

// belum terlalu terlambat untuk mengucapkan “hepi berdei!”
// kepada mereka berdua

Saya berkesempatan untuk silaturahim kepada keluarga di suatu pesantren di lereng gunung Sumbing. [wikimapia]

Sekira jam 17.00 orang berduyun-duyun mendatangi masjid di kompleks pesantren tersebut dengan pakaian layaknya akan melakukan sholat.

Ternyata benar, mereka akan melakukan sholat Ashar berjamaah.
Jam 17.00 baru sholat jamaah Ashar?

Usut punya usut ternyata memang sudah menjadi kebiasaan di daerah itu sholat Ashar berjamaah di masjid diselenggarakan sekira jam 17.00.

Hal ini untuk memberi kesempatan kepada penduduk sekitar yang berprofesi sebagai petani / peladang untuk ikut sholat berjamaah Ashar di masjid. Biasanya mereka baru pulang dari ladang beberapa saat sebelum jam 17.00.

Untuk mengejar keutamaan sholat berjamaah, pelaksanaannya di masjid sengaja agak diakhirkan.

.

Orang Indonesia memang kreatif dalam memberikan nama produk.

Salah satunya adalah yang saya lihat terhidang di salah satu meja jamuan lebaran:

.

PIC_0018

.

BISKUIT –> … –> “BISKUAT” –> … –> “BISKOTA” –> …

Awalnya saya kira yang ada di dalam kaleng tersebut adalah biskuit, sehingga hipotesis saya: pembuatnya ingin menunjukkan bahwa ini adalah biskuit untuk daerah perkotaan atau biskuit apalah yang berkaitan dengan kota.

Ternyata isinya… WAFER CREAM!

I have no clue… *garuk-garuk kepala* :-p

.

Saat semua anggota keluarga mudik ke rumah yang dianggap sebagai markas besar keluarga, timbul masalah yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

.

#1 Terjadi kelangkaan lahan parkir

Di perkampungan yang lebar jalannya pas benar untuk dilalui dua mobil dan tidak ada lagi lahan terbuka umum, masalah parkir ini betul-betul terasa. Kalau satu keluarga bawa satu mobil dari kota rantaunya, sementara kondisi halaman rumah tidak mencukupi untuk menampung, maka yang terjadi adalah rebutan lahan yang mungkin untuk dijadikan tempat parkir.

Salah satu tempat parkir favorit saya adalah halaman balai desa. Tapi itupun tetap harus dulu-duluan dengan tetangga yang juga mudik bawa mobil. Kadang juga bermasalah jika ada yang menempatkan mobilnya sedemikian hingga parkiran menjadi stack yang LIFO (last in first out) atau mobil ditempatkan tepat di pintu akses, sementara kita tidak tahu itu mobil punya siapa.

.

PIC_0013

.

Belum lagi suasana menjelang lebaran yang malam harinya identik dengan anak-anak kecil bermain petasan. Halaman balai desa juga adalah tempat favorit buat mereka untuk unjuk kebolehan meledakkan petasan. Alhasil, khusus untuk malam hari harus mencari tempat yang lebih aman.

.

#2 Terjadi kelangkaan stop kontak

Tiap orang yang mudik sekarang hampir bisa dipastikan bawa handphone. Banyak yang mengantongi tidak hanya satu, sehingga mungkin ada belasan hp dalam satu rumah.

Bayangkan saat semua anggota keluarga ingin nge-charge hp-nya pada waktu yang bersamaan. Stop kontak seperti jadi harta karun yang mahal harganya.

.

Rasanya banyak lagi sumber daya yang tadinya biasa saja, berubah menjadi sesuatu yang mahal harganya saat orang berbondong-bondong mudik dari rantau.

.

Mumpung lewat daerah Kedu, Temanggung, saya menyempatkan diri untuk berwisata teroris ke Beji.

Menyaksikan rumah paling terkenal di Beji se-Indonesia, rumah Pak Muh Jahri, yang menurut polisi merupakan tempat tertembaknya Ibrohim, salah satu buronan yang disangka terlibat pemboman 2 hotel di Jakarta beberapa waktu lalu.

.

beji

sumber: wikimapia

.

Kondisi rumah yang terlihat secara langsung sangat berbeda dengan yang terakhir kali terlihat di televisi.

Selama dan setelah proses penyergapan, tampak seperti ini:

1bomtemanggung1

1bompolisi

1bomnonton2

sumber foto: www.koki-kolomkita.com

.

Saat saya sampai di lokasi, yang berwisata teroris tidak cuma saya. Banyak kendaraan luar kota yang memadati seputaran rumah. Sejumlah orang tampak berkeliling rumah, berfoto-foto, dan mengintip ke dalam rumah lewat kaca jendela.

Kabarnya, pihak kepolisian membantu merenovasi rumah yang berantakan akibat ledakan dan berlubang-lubang akibat terjangan peluru. Tembok sudah ditambal dan dicat baru. Sebagian genting yang berhamburan sudah diganti dan ditata rapi kembali.

Saat mengintip ke dalam rumah, saya kok mendapat kesan ada yang berubah pada layout rumah itu dibandingkan dengan sebelum renovasi. Seperti ada dinding yang hilang / dihilangkan / dipindahkan. Sayang saat itu tidak ada yang bisa saya tanya untuk mengkonfirmasi rasa penasaran saya.

Saat itu yang terlihat seperti ini:

100_1253

100_1255

100_1256

100_1258

.

Sayangnya saat itu pintu dalam keadaan terkunci sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam rumah.

Beberapa hari kemudian barulah saya dapat kabar kalau pemilik rumah mengijinkan orang untuk menjenguk ke dalam. Sayangnya saat itu saya sudah tidak bisa jalan-jalan ke Beji lagi.

Pemilik rumah katanya berniat menjadikan rumah tersebut sebagai museum. Mungkin suatu saat nanti sempat mampir ke sana sudah ada diorama dan tour guide yang menceritakan kronologi penyergapan serta bisa beli cindera mata: gantungan kunci selongsong peluru, pecahan genting dalam kotak kaca, foto rumah sebelum-saat-setelah penyergapan yang ditandatangani Pak Muh Jahri, action figure Densus 88, dll. :-)

.

Mudik berasosiasi kuat dengan silaturahim. Bertemu dan eratnya kembali sanak saudara yang selama setahun telah terpisah jauh, bisa jauh secara fisis maupun jauh secara non-fisis.

Ada cerita saat keluarga dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur berkumpul di Jawa Tengah.
Anak-anak kecil dari sejumlah keluarga tersebut bermain bersama anak-anak tetangga.

Ditengah asyiknya bermain, anak dari JaTim bertanya kepada anak tetangga, “Kon sopo?” (terj: kamu siapa?; namamu siapa?)
Anak yang ditanya bengong sebentar kemudian menjawab, “Ora di kon sopo-sopo” (terj: tidak disuruh siapa-siapa)
“Kon” yang dalam bahasa Jawa Timuran berarti “kamu”, disalahartikan menjadi “(di)suruh” oleh anak JaTeng.

Lain cerita.
Anak JaTeng memelihara kucing yang kebetulan baru melahirkan beberapa anak.
Anak JaBar dan anak JaTeng tengah berada di dekat pagar rumah. Anak JaBar melihat ada seekor anak kucing yang berjalan terhuyung-huyung meninggalkan pagar menjauhi rumah. Spontan ia berseru kepada anak JaTeng sambil menunjuk anak kucing tersebut, “Anak kucing, cokot.. cokot..!” (terj: anak kucing, ambil..ambil..!).
Bisa dibayangkan bagaimana wajah kebingungan anak JaTeng yang tiba-tiba disuruh menggigit anak kucing. (“cokot” dalam bahasa Jawa berarti “gigit”)

Cerita ambiguitas yang lain lagi.
Saat akan bersantap makan bersama, anak JaTeng yang merasa sebagai tuan rumah mempersilakan saudara-saudaranya untuk makan. Dengan bangga ia menunjukkan masakan khas daerahnya, “Ini nasi, ini sambel, ini jangan, ini jangan, ini jangan….”
Setelah mendengar itu, anak Jkt hanya mengambil nasi dan mulai menyuap.
“Lho.. adik nggak suka sayurnya?”
“Adik pengen, Ma. Tapi tadi katanya semua jangan”

Pasti masih banyak kejadian serupa di atas yang terjadi saat orang dari daerah yang berbeda berinteraksi menggunakan bahasa atau dialeknya masing-masing.

Ditengah senyum simpul, saya berterima kasih kepada para penggagas, perintis, dan founding-fathers negeri ini yang dengan tegas menyatakan bahwa bahasa resmi kita adalah bahasa Indonesia yang mengatasi ego kedaerahan dan menjembatani perbedaan ragam bahasa daerah.
.

Membuat plat nomor yang lebih trendi dengan cara pesan sendiri ke kios pembuat plat nomor sedang jadi tren.

Salah satu masalahnya, ketrendian itu kadang mengubah kode nomor yang tertera pada plat, contohnya:

.

PIC_0010

.

Mana angka nol dan mana huruf O jadi tidak jelas.
Saya yakin, aslinya tertulis “B <sekian><nol><sekian><sekian> OQ”.

Penulisan angka nol memang harus dipastikan berbeda dengan penulisan huruf O, terutama penulisan dengan tangan.

Ada beberapa cara yang bisa dan biasa dilakukan untuk membedakan diantara keduanya:

  1. Menuliskan huruf O dengan lebih bundar daripada angka nol. Cara ini masih tetap bermasalah, terutama untuk tulisan tangan.
  2. Menggunakan dotted zero, seperti yang digunakan pada IBM 3270 dan digunakan pula pada typeface Andalé Mono
  3. Menggunakan slashed zero. Cara ini sepertinya yang paling banyak digunakan, terutama dalam tulisan tangan.
  4. Menggunakan reversed slash. dll.

.

.

Pastikan kita menulis dan membaca angka nol dan huruf O dengan benar untuk menghindari kesalahpahaman.

Tulisan memang hanya simbol untuk mewakili gagasan, tetapi jika kita tidak sepaham dengan aturan penulisan dan pembacaannya, kesalahan yang terjadi bisa menimbulkan bencana.

.

Pada sebuah acara buka puasa bersama, salah satu sajiannya adalah nasi bakar

.

PIC_0006

.

Saat membaca tag line di tutup pembungkusnya, sangat bersyukur bukan saya yang pesan nasi bakar tersebut. Pesan nasi sembarangan bisa nggak selamat.

“… Anda pesan kami bakar…”

Entah sengaja atau tidak, tag line tersebut bermakna ganda.
Siapa atau apa yang dibakar?
Apakah pemesannya akan langsung dibakar segera setelah dia melakukan pesanan?
Ataukah ingin menunjukkan bahwa nasinya baru akan dibakar segera setelah ada pesanan, sehingga dijamin bungkusan nasi yang keluar dari kedai tersebut masih hangat?

// segala sesuatu yang ditampilkan atau dituliskan di sini sama sekali
// tidak dimaksudkan sebagai iklan atau promosi dari produk yang
// bersangkutan, hanya menunjukkan satu contoh kasus.

.

Masih nyambung tentang adzan, seorang teman yang sedang berburu ilmu di negeri kanguru menulis di akhir emailnya beberapa waktu lalu:
“selamat menunaikan puasa ramadhan, hik…hik… disini tidak ada suara adzan :(
Suara adzan yang tiap hari biasa kita dengar ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti di kala ketiadaannya.
Kalimat yang klise: Sesuatu menjadi terasa benar arti keberadaannya dan membuat kita bersyukur justru saat ia sudah tidak lagi ada.

Masih nyambung tentang adzan, seorang teman yang sedang berburu ilmu di negeri kanguru menulis di akhir emailnya beberapa waktu lalu:

“selamat menunaikan puasa ramadhan, hik…hik… disini tidak ada suara adzan :(

Suara adzan yang tiap hari biasa kita dengar ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti di kala ketiadaannya.

Kalimat yang klise: Sesuatu menjadi terasa benar arti keberadaannya dan membuat kita bersyukur justru saat ia sudah tidak lagi ada.

.