You are currently browsing the monthly archive for May 2010.

Tidak jarang kita baca tulisan “jaga jarak aman” di bagian belakang kendaraan

.

.

Rasanya kita semua akan sependapat dengan tulisan tersebut. Demi keselamatan, memang harus dijaga jarak aman antar kendaraan agar jika ada kejadian mendadak (berhenti tiba-tiba dll), masih ada cukup jarak untuk melakukan aksi (mengerem, mengelak dll.)

Meski demikian, otomatis akan muncul juga pertanyaan: seberapa jauh jarak antar kendaraan yang bisa dikatakan sebagai jarak aman?
Jarak aman di jalan tol tentu akan berbeda dengan jarak aman di jalan kampung. Kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi tentu membutuhkan jarak yang besar dengan kendaraan di depan dan di belakangnya.

Ok, kita sepakat tentang hal itu. Tapi tetap saja pertanyaannya belum terjawab, seberapa besar jaraknya?
Dari pernyataan di atas, secara sederhana kita bisa punya simpulan bahwa jarak aman merupakan fungsi dari kecepatan kendaraan.

Jarak dan kecepatan punya hubungan erat dengan waktu. Dengan demikian kita mungkin saja mengganti (menyetarakan) istilah ‘jarak’ dengan ‘waktu’.
Mengapa demikian?
Bayangkan kita sedang berkendara, tiba-tiba kendaraan di depan kita berhenti mendadak. Spontan kita pun akan mengerem kendaraan kita agar tidak menabraknya.

Ada tiga faktor utama penentu berhasil / tidaknya proses pengereman tersebut, yakni:

  • seberapa cepat reaksi kita dalam melakukan pengereman
  • seberapa cepat kendaraan kita bisa berhenti
  • jarak antara kendaraan kita dengan kendaraan di depan (ini yang nantinya bisa kita setarakan dengan waktu -agar satuannya sama dengan 2 faktor yang lain-).

Untuk ‘menghilangkan’ faktor jarak -yang lebih sulit dihitung saat kita sedang berkendara-, kita gunakan waktu jeda antara kendaraan di depan dengan kendaraan kita sehingga tidak lagi terpengaruh oleh kecepatan.

Ternyata masalah tidak kemudian selesai. Kita punya pertanyaan baru: berapa jeda waktu antar kendaraan yang aman?

Meski tidak mudah, kita bisa dapatkan waktu ini dengan memperhitungkan rata-rata waktu respon manusia dan rata-rata waktu respon pengereman kendaraan. Syukurlah sudah ada yang meneliti. Waktu yang dianggap aman sebagai jeda antar kendaraan adalah 2 detik. Hal ini sering disebut sebagai “two-second rule”.

“Aturan” ini sangat mudah diaplikasikan saat berkendara. Tidak perlu pakai kalkulator segala (kebayang kalo nyetir sambil pencet-pencet kalkulator terus).

Caranya begini: untuk mengukur jeda waktu dengan kendaraan di depan, pertama pilih satu penanda di pinggir jalan (pohon, rambu, tumpukan batu atau apapun) di pinggir jalan yang akan terlewati. Saat kendaraan di depan tepat bersisian dengan penanda tadi, mulailah berhitung yang kira-kira setara dengan 2 detik (boleh dengan berucap pelan dalam hati “seribu dan satu, seribu dan dua”).

Jika setelah selesai berhitung, baru kendaraan kita bersisian dengan penanda, artinya kita berada pada “waktu aman”. Sebaliknya jika belum selesai berhitung, kendaraan kita sudah melewati penanda, artinya kita harus segera memperlambat untuk mendapat “waktu aman”. Mudah kan?

.

.

Dengan aturan ini, jarak aman akan otomatis tercapai sesuai dengan kecepatan kendaraan. Misal: jika kecepatan kita 30 km/jam maka kita akan punya jarak 16,7 m. Jika kecepatan kita 100 km/jam kita akan punya jarak 55,6 m.

Aturan dua detik tersebut berlaku saat kita berkendara dalam keadaan cuaca normal. Saat hujan lebat, keadaan gelap dll. akan lebih aman jika kita sesuaikan jadi aturan tiga detik atau bahkan aturan empat detik.
Jika kita terapkan dengan disiplin, insya Allah akan meningkatkan jaminan keamanan berkendara.

Repotnya, beberapa kali saat saya menerapkan aturan ini hingga di depan saya ada cukup ruang aman, tidak berapa lama akan ada kendaraan lain yang menyelinap masuk ke ruang aman tersebut (“hiduplah Indonesia Raya…”). Alhasil, saya harus mundur lagi, demikian seterusnya. Lama-lama sebel juga, dan akhirnya balik lagi ke kelakuan primitif: tekan gas, mepet ke kendaraan depan biar tidak disela lagi :(

Ayo dong.. Sama-sama pake two-second rule..
Di jalan kan safety harus selalu the first.

.

Suatu kali pernah saat akan sholat di kamar hotel saya kebingungan menentukan arah kiblat. Tanda panah penunjuk kiblat yang biasanya mudah kita jumpai di pojok langit-langit hotel atau di laci meja ternyata tidak ada.

Daerah itu (sebut saja kota Y) belum pernah saya datangi dan cukup jauh dari kampung halaman (sekian belas jam naik pesawat). Agak sulit juga berkomunikasi dengan orang-orang di situ (yang tentu saja mayoritas bukan muslim). Saya nanya ‘kiblat’ juga mereka cuma geleng-geleng kepala.

Matahari belum muncul, sementara saya jelas tidak bisa membaca arah dengan pedoman bintang.

Untungnya di travel bag sengaja ada kompas penunjuk kiblat plus buku manual kecilnya yang sengaja saya siapkan untuk kondisi seperti ini.

.

.

Selanjutnya langkah standar, cari kota Y dalam tabel di buku untuk melihat angka yang harus ditunjuk oleh jarum utara kompas. Kemudian posisikan kompas sedemikian rupa sehingga akhirnya bisa dapat arah kiblat.

Iseng-iseng saya pindah lokasi -meski masih tetap di dalam kamar-.

Lho kok jarum kompasnya tidak konsisten? Asumsi arah kiblat jadi berubah lagi.

Penasaran. Pindah lokasi lagi. Kejadiannya sama, jarum kompas menunjuk arah yang berbeda.

Weleh! Kamar hotel yang aneh!   @_@

Mengingat bangunan hotel ini cukup tinggi, saya punya dugaan bahwa besi-besi tulang betonnya sangat besar (dan / atau banyak) sehingga bisa mempengaruhi arah yang ditunjuk jarum kompas, atau ada hal lain di kamar hotel itu yang bisa mempengaruhi arah jarum kompas (apaan ya?)

Oke.. kalau begitu lupakan kompas.

Akhirnya saya nekat sholat menghadap ke arah yang saat itu saya yakini sebagai arah kiblat.

“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu”. (QS. al-Baqarah:115)

.

Yang saya alami tersebut ternyata adalah salah satu kelemahan penggunaan kompas dalam penentuan arah kiblat.
Karena sangat mengandalkan penunjukan jarum magnet, masalah akan timbul jika kompas digunakan pada daerah yang memiliki sesuatu yang dapat mengacaukan arah penunjukan jarum magnet (contoh: di daerah yang terdapat banyak unsur logam, baik alami maupun buatan).

Masalah penggunaan kompas magnetik ternyata tidak berhenti sampai disitu. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata kutub magnet bumi tidaklah diam di tempat. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1831, kutub utara telah bergerak rata-rata 15 km per tahun hingga tahun 1904. Penelitian tahun 1989 menunjukkan percepatan dalam pergerakannya. Bahkan pada tahun 2007, kutub utara magnet bumi sedang bergerak ke arah Siberia dengan kecepatan 55 hingga 60 km per tahun.[national geographic]

Kalau titik rujukan kompasnya bergeser, tentu saja arah yang ditunjukkannya juga tidak akan sama lagi secara geografis.

Penentuan arah menggunakan kompas biasanya berpanduan pada buku kecil yang memuat tabel kota-kota besar dunia berikut angka yang harus ditunjuk oleh ujung utara jarum magnet sehingga tanda kiblat pada kompas diperkirakan tepat mengarah ke kiblat.

Kalau saya perhatikan, beberapa buku pendamping kompas seperti itu usia cetaknya sudah cukup lama. Beberapa juga masih menggunakan ejaan lama (misal: masih ada yang menuliskan ‘Djakarta’).

Kita tidak tahu pasti kapan pengukuran / perhitungan dilakukan untuk mendapatkan angka yang tertulis di buku tersebut. Apakah sekarang angka tersebut masih valid, jika dikaitkan dengan fenomena pergeseran kutub magnet bumi?

Update angka di tabel dalam buku manual memang adalah salah satu solusi yang mungkin dilakukan. Tentu saja proses ini harus dilakukan secara berkala. Alternatif lain adalah penggunaan cara lain yang tidak melibatkan kompas dalam penentuan arah kiblat.

Ada sejumlah cara alternatif yang bisa dilakukan. Ada yang memanfaatkan posisi matahari, ada yang menyarankan penggunaan teknologi GPS, ada yang menggunakan citra satelit dll.

Dua perangkat yang sering saya gunakan adalah: software di handphone saya (Pocket Islam) yang salah satu fiturnya adalah penentu arah kiblat berdasar posisi matahari saat itu di lokasi tersebut, dan aplikasi penentu arah kiblat berbasis web (www.qiblalocator.com)

.

.

Beberapa waktu lalu, salah satu unit di institusi saya mendapat kunjungan 2 orang asesor yang mewakili suatu badan akreditasi bertaraf nasional di negeri ini.

Begitu mendapatkan informasi jadwal kunjungan, seketika itu juga semua orang mendadak mulai sibuk.
Pembenahan -intensif selama lebih kurang 2 minggu- dilakukan di semua aspek: fasilitas fisik, kelengkapan dokumen, prosedur, sistem informasi dll.

Pembenahan dilakukan bukan karena awalnya tidak ada kemudian di-ada-ada-kan. Semuanya dilakukan semata agar lebih tertata saat akan diverifikasi.

Ditengah ‘keributan’ itu, salah seorang teman menyeletuk, “Aduh.. capek banget… apakah memang persiapan yang mau di-assess harus seberat ini?”
Spontan saya jawab, “Ya.. akan selalu begini kalau kita tidak apa adanya…”.

Sepertinya akan terasa ringan dan tidak akan mendadak sibuk jika memang kita rela assessment dilakukan terhadap apa yang sehari-hari terjadi dan kita lakukan.

Wah… Nilainya jadi jelek dong?

Hmm.. bukankah salah satu tujuan asssessment adalah untuk memotret bagaimana kualitas kita saat ini?
Bukankah kalau kita berjuang keras hanya di saat menjelang assessment hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, justru akan membuat assessment itu sendiri tidak berarti dan tidak memberikan manfaat perbaikan untuk kita sendiri?

Kalau pengen dapat nilai bagus dari assessment?

Kata orang gini:
Buat agar apa yang kita lakukan dalam keseharian memang berkualitas. Berlakulah dengan baik dan berkualitas tinggi tidak hanya saat ada assessment.
Dengan demikian, saat ada assessment kita bisa berlaku apa adanya, tidak perlu ada usaha khusus, tidak perlu ada pembenahan instan dll.

Sederhananya, kita siap meski assessment dilakukan kapan saja. Karena kapanpun dipotret, akan menghasilkan gambaran kualitas tinggi dari keseharian kita.

Saya jadi ingat cerita yang pernah saya baca dari suatu milis (maaf saya lupa penulis aslinya) tentang anak yang melakukan konser piano.

Saya ceritakan kembali dengan bahasa saya:

Seorang anak (mungkin seusia SD) telah dijadwalkan untuk konser unjuk kemampuannya bermain piano pada suatu malam.

Sore hari menjelang konser, seperti biasa anak itu diantar ibunya untuk les piano untuk beberapa jam. Selesai les, berdua mereka menuju gedung pertunjukan untuk bersiap demi konser nanti malam.

Singkat kata, konser berlangsung sukses dan permainan piano anak itu mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari pengunjung.

Selesai konser, ibu dan anak diwawancara. Salah satu pertanyaannya, “Berapa lama anda berlatih mempersiapkan diri untuk konser ini?”

Jawabannya sungguh di luar dugaan, “Saya tidak berlatih khusus untuk konser ini. Saya punya jadwal les tetap setiap minggu. Saya pun hanya berlatih rutin di rumah.
Tidak ada persiapan khusus untuk konser ini. Apa yang saya tampilkan di konser tadi adalah apa yang saya mainkan tiap hari di rumah.”

.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.