You are currently browsing the monthly archive for June 2010.

Salah satu akibat dari demam Piala Dunia 2010 adalah kadang saya ‘terpaksa’ nonton pertandingan sepak bola di televisi. Salah satu hal yang sangat jarang saya lakukan dengan sadar dan ikhlas

Iya lah… demi kejadian 4 tahun sekali…

Di tengah riuh rendah pertandingan dan pekikan vuvuzela, saya teringat “heng”, “kornel”, dan “opset”.

Pemain bola mana?
Makanan?
Nama kucing?

Bukan…

Tiga kata itu agak akrab di telinga saya saat kecil dulu.
Waktu masih main bola plastik di lapangan sebelah pepohonan kopi dan main bola tenis dengan gaya futsal di teras balai desa.

Dengan keterbatasan referensi, tapi pengen gaya ikut-ikutan komentator pertandingan bola di TV hitam putih bertenaga aki yang harus disetrum tiap minggu, akhirnya muncullah teriakan “heeeeng” saat bola menyentuh tangan pemain non-kiper. Terdengar “kooorneeel” saat tendangan sudut harus dilakukan. Ada juga “oooopseeet” yang sebetulnya merujuk pada offside.

Mau “opset”-nya sepakbola kampung ataupun offside-nya World Cup, sepakbola tetap olahraga yang mengasyikkan (buat saya: untuk ditonton).
Meski saya nggak terlalu ngerti juga (ngerti aja nggak, apalagi main?), yang penting seru!

Lewat minggu pertama bulan Juni.
Hujan masih saja sekali-sekali tercurah  di Bandung.
Kadang cukup deras.

.

.

.

.

Musim sudah tidak lagi mengikuti hafalan waktu SD dulu:
“Oktober sampai Maret musim penghujan.
April sampai September musim kemarau”

Saya jadi ingin tahu komentar Sapardi Djoko Damono yang tahun 90-an (cmiiw) menulis puisi Hujan Bulan Juni

.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

.

Salah satu tafsirnya berkaitan dengan “kerahasiaan-ketidaktampakan dari keberadaan-keikhlasan”.
(mungkin salah.. sepertinya hanya Pak Sapardi dan Tuhan yang tahu maksud sebenarnya puisi-puisi beliau)

Bisa jadi pemilihan bulan Juni dikarenakan pada tahun-tahun itu (setidaknya begitu yang masih saya ingat), hampir tidak pernah ada hujan turun di bulan Juni.

Ataukah Pak Sapardi telah menerima bisikan Tuhan bahwa suatu saat -di zaman yang dekat- hujan betul-betul akan turun di bulan Juni?

Bonus nih: musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.