Lewat minggu pertama bulan Juni.
Hujan masih saja sekali-sekali tercurah di Bandung.
Kadang cukup deras.
.
Musim sudah tidak lagi mengikuti hafalan waktu SD dulu:
“Oktober sampai Maret musim penghujan.
April sampai September musim kemarau”
Saya jadi ingin tahu komentar Sapardi Djoko Damono yang tahun 90-an (cmiiw) menulis puisi Hujan Bulan Juni
.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itutak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itutak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
.
Salah satu tafsirnya berkaitan dengan “kerahasiaan-ketidaktampakan dari keberadaan-keikhlasan”.
(mungkin salah.. sepertinya hanya Pak Sapardi dan Tuhan yang tahu maksud sebenarnya puisi-puisi beliau)
Bisa jadi pemilihan bulan Juni dikarenakan pada tahun-tahun itu (setidaknya begitu yang masih saya ingat), hampir tidak pernah ada hujan turun di bulan Juni.
Ataukah Pak Sapardi telah menerima bisikan Tuhan bahwa suatu saat -di zaman yang dekat- hujan betul-betul akan turun di bulan Juni?
–
Bonus nih: musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni




4 comments
Comments feed for this article
June 18, 2010 at 3:32 pm
suryopranoto
wew, yang bawa payung cantik pak
, hem bisa jadi berjuta – juta tahun yang lalu kejadian hujan di bulan juni juga pak, lha kutub magnet bumi aja bisa geser masa’ iklim penghujan ga boleh geser ?
June 18, 2010 at 5:14 pm
FAY
@Suryo
Tumben yang kamu perhatikan yang bawa payung, Sur.
Biasanya kan fokusmu justru di payungnya…
June 20, 2010 at 2:42 am
Smile
pak, pohon tumbang deket LC gak di foto yaaaaa…..
June 22, 2010 at 3:50 pm
FAY
@Smile
Wah.. ada pohon tumbang ya?
Malah baru tau..
sebetulnya ada juga kejadian “cileuncang di bulan Juni” lho..