Lewat minggu pertama bulan Juni.
Hujan masih saja sekali-sekali tercurah  di Bandung.
Kadang cukup deras.

.

.

.

.

Musim sudah tidak lagi mengikuti hafalan waktu SD dulu:
“Oktober sampai Maret musim penghujan.
April sampai September musim kemarau”

Saya jadi ingin tahu komentar Sapardi Djoko Damono yang tahun 90-an (cmiiw) menulis puisi Hujan Bulan Juni

.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

.

Salah satu tafsirnya berkaitan dengan “kerahasiaan-ketidaktampakan dari keberadaan-keikhlasan”.
(mungkin salah.. sepertinya hanya Pak Sapardi dan Tuhan yang tahu maksud sebenarnya puisi-puisi beliau)

Bisa jadi pemilihan bulan Juni dikarenakan pada tahun-tahun itu (setidaknya begitu yang masih saya ingat), hampir tidak pernah ada hujan turun di bulan Juni.

Ataukah Pak Sapardi telah menerima bisikan Tuhan bahwa suatu saat -di zaman yang dekat- hujan betul-betul akan turun di bulan Juni?

Bonus nih: musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni