Salah satu akibat dari demam Piala Dunia 2010 adalah kadang saya ‘terpaksa’ nonton pertandingan sepak bola di televisi. Salah satu hal yang sangat jarang saya lakukan dengan sadar dan ikhlas

Iya lah… demi kejadian 4 tahun sekali…

Di tengah riuh rendah pertandingan dan pekikan vuvuzela, saya teringat “heng”, “kornel”, dan “opset”.

Pemain bola mana?
Makanan?
Nama kucing?

Bukan…

Tiga kata itu agak akrab di telinga saya saat kecil dulu.
Waktu masih main bola plastik di lapangan sebelah pepohonan kopi dan main bola tenis dengan gaya futsal di teras balai desa.

Dengan keterbatasan referensi, tapi pengen gaya ikut-ikutan komentator pertandingan bola di TV hitam putih bertenaga aki yang harus disetrum tiap minggu, akhirnya muncullah teriakan “heeeeng” saat bola menyentuh tangan pemain non-kiper. Terdengar “kooorneeel” saat tendangan sudut harus dilakukan. Ada juga “oooopseeet” yang sebetulnya merujuk pada offside.

Mau “opset”-nya sepakbola kampung ataupun offside-nya World Cup, sepakbola tetap olahraga yang mengasyikkan (buat saya: untuk ditonton).
Meski saya nggak terlalu ngerti juga (ngerti aja nggak, apalagi main?), yang penting seru!