You are currently browsing the monthly archive for September 2010.
Masih dalam perjalanan ngider berkunjung ke rumah saudara.
Suatu saat tiba waktu Ashar, kami (saya dan beberapa kakak) jamaah sholat di sebuah musholla kecil.
Selesai sholat dan rangkaiannya, pandangan saya tertumbuk pada karung berisi setengah penuh yang berada di mihrab tampat imam biasa memimpin sholat.
.
.
Daripada penasaran, saya beranikan diri menjulurkan tangan menyentuh sedikit sekedar untuk mengetahui isinya.
Dan… sodara-sodara… ternyata karung itu berisi kerikil.
Kerikil?
Ya.. kerikil.
Apa yang dilakukan kerikil di mihrab?
Atau lebih tepatnya: apa kira-kira yang dilakukan imam dengan kerikil setengah karung di mihrabnya itu?
“Sangu mati-nya imam”, kata salah seorang kakak.
“Sangu mati” = bekal saat nanti sang imam dijemput malaikat maut
Ternyata kerikil yang ada dalam karung itu menunjukkan berapa banyak amal (terutama wirid/dzikir) yang telah dilakukan sang pemiliknya. Tiap kali selesai berwirid sekian ribu kali, dimasukkanlah satu buah kerikil ke dalam karung.
Wow!
Melihat isi karung itu, terbayang berapa banyak “sangu mati” yang sudah dikumpulkan oleh sang imam.
Biasanya saat sang empunya meninggal, karung “sangu mati” tersebut juga turut diarak ke pemakaman dan ikut dimasukkan ke dalam liang lahat bersama dengan jenazah.
Hmm..
Seakan Allah bisa lupa dengan amal yang telah dilakukan dan hitungannya.
Seakan catatan malaikat tidak cukup akurat hingga perlu dibantu dengan kerikil.
Btw, fenomena karung “sangu mati” ini adalah salah satu kebiasaan di masyarakat Islam tradisional yang mungkin diawali dari penafsiran yang terlalu kaku terhadap perintah memperbanyak amal shalih dan bahwa nanti Allah akan melakukan perhitungan terhadap amal kita selama hidup.
.
Berkunjung ke rumah saudara selain memperkuat silaturahim, kadang juga memberikan kejutan-kejutan kecil.
Di dua rumah yang berbeda, saya masih menemui pesawat televisi jaman dulu. Televisi hitam putih yang bisa ditenagai oleh listrik AC 110 volt maupun dengan listrik DC (biasanya pakai aki mobil). Salah satunya bahkan hanya mampu menangkap siaran televisi pada rentang VHF.
.
.
.
Yang lebih mengejutkan adalah salah satunya bermerek “Intel”.
Saya belum pernah tahu kalau Intel yang sekarang kita kenal sebagai produsen mikroprosesor dan beragam chip untuk berbagai peralatan elektronik, dulunya pernah juga memproduksi pesawat televisi. Setidaknya hal itu tidak saya temukan di situs resminya Intel.
Apakah “Intel” yang membuat televisi tersebut adalah juga Intel Corporation yang didirikan tahun 1968 oleh Gordon E. Moore dan Robert Noyce?
“Sebenarnya…. saya ini adalah…. intel!” (courtesy of Opera Van Java)
.
5L – Tradisi Idul Fitri di Jawa:
- Libur
- Labur
- Luber
- Lebar
- Lebur
—
:: LIBUR
Orang Jawa biasanya akan menyempatkan atau mengatur waktunya agar menjelang dan beberapa hari saat Idul Fitri betul-betul bisa keluar dari rutinitas kerjanya dan melakukan aktifitas yang khas selama Idul Fitri tersebut
:: LABUR
Istilah ‘labur’ dulu saya kenal berhubungan dengan aktifitas melumuri dinding rumah atau pagar dengan larutan kapur. Secara luas istilah ini bisa dikembangkan menjadi mempercantik tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya.
Orang Jawa akan dengan suka ria memperindah rumah dan sekelilingnya untuk menyambut Idul Fitri.
//untung ada Idul Fitri, setidaknya setahun sekali rumah dibagusin
:: LUBER
Menjelang dan saat Idul Fitri orang biasanya akan lebih mudah berbagi rizqi dengan orang lain. Kebahagiaan yang dipunyai akan dengan mudah diluberkan kepada sekelillingnya.
Yang paling mudah kelihatan adalah kebiasaan memberi uang untuk anak, saudara, keponakan ataupun berbagi makanan dengan tetangga.
:: LEBAR
Setelah menjalankan ibadah Ramadhan sebulan penuh, 1 Syawal biasanya akan disambut dengan perayaan yang cukup meriah. Mulai dari persaingan kembang api hingga yang perayaan yang sifatnya lebih spiritual dan hakikat.
:: LEBUR
Orang Jawa membiasakan diri untuk memperbaharui jalinan silaturahim saat Idul Fitri. Saling bermaafan melebur ganjalan rasa dan dosa sesama manusia menjadi menu utama dalam aktifitas ini, bahkan dengan orang yang mungkin hanya sempat ditemuinya setahun sekali.
.
(terinspirasi dari khutbah Jumat 1 Syawal 1431H)




Recent Comments