Masih dalam perjalanan ngider berkunjung ke rumah saudara.

Suatu saat tiba waktu Ashar, kami (saya dan beberapa kakak) jamaah sholat di sebuah musholla kecil.

Selesai sholat dan rangkaiannya, pandangan saya tertumbuk pada karung berisi setengah penuh yang berada di mihrab tampat imam biasa memimpin sholat.

.

.

Daripada penasaran, saya beranikan diri menjulurkan tangan menyentuh sedikit sekedar untuk mengetahui isinya.

Dan… sodara-sodara… ternyata karung itu berisi kerikil.

Kerikil?
Ya.. kerikil.

Apa yang dilakukan kerikil di mihrab?
Atau lebih tepatnya: apa kira-kira yang dilakukan imam dengan kerikil setengah karung di mihrabnya itu?

“Sangu mati-nya imam”, kata salah seorang kakak.

“Sangu mati” = bekal saat nanti sang imam dijemput malaikat maut

Ternyata kerikil yang ada dalam karung itu menunjukkan berapa banyak amal (terutama wirid/dzikir) yang telah dilakukan sang pemiliknya. Tiap kali selesai berwirid sekian ribu kali, dimasukkanlah satu buah kerikil ke dalam karung.

Wow!
Melihat isi karung itu, terbayang berapa banyak “sangu mati” yang sudah dikumpulkan oleh sang imam.

Biasanya saat sang empunya meninggal, karung “sangu mati” tersebut juga turut diarak ke pemakaman dan ikut dimasukkan ke dalam liang lahat bersama dengan jenazah.

Hmm..
Seakan Allah bisa lupa dengan amal yang telah dilakukan dan hitungannya.
Seakan catatan malaikat tidak cukup akurat hingga perlu dibantu dengan kerikil.

Btw, fenomena karung “sangu mati” ini adalah salah satu kebiasaan di masyarakat Islam tradisional yang mungkin diawali dari penafsiran yang terlalu kaku terhadap perintah memperbanyak amal shalih dan bahwa nanti Allah akan melakukan perhitungan terhadap amal kita selama hidup.

.

Advertisement