Mendengar siaran radio yang menemani perjalanan pagi dari rumah, saya baru sadar bahwa hari ini (25 Nov 2010) adalah Hari Guru Nasional (HGN) yang ke-65.

Terlepas dari sejarah HGN yang penetapannya melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 maupun beribu cerita suka-duka kehidupan guru di Indonesia, yang berkilas-kilas di pikiran saat mendengarnya adalah gambaran para guru yang berkontribusi membentuk saya yang sekarang ini.

Diakui atau tidak, siapapun kita sekarang ini sedikit banyak dipengaruhi oleh guru seperti apa yang membentuk kita.

Terima kasih untuk semua guru!

Dengan sedikit memaksa, saya bisa pinjam penyataan Newton yang sangat terkenal –dalam suratnya kepada Robert Hooke bertanggal 5 Februari 1676–, “… If I have seen a little further it is by standing on the shoulders of Giants. …”

Saya tidak membatasi istilah ‘guru’ hanya untuk beliau yang membimbing saya mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas. Saya membuka istilah tersebut untuk semua yang membantu saya menjadi lebih baik, baik dalam kerangka formal maupun informal.

Ayah dan ibu yang mengajari dan mendoakan saya untuk jadi orang yang lebih baik sejak dalam kandungan. Para penulis yang bukunya menginspirasi. Teman diskusi yang perbincangannya membuka cakrawala baru. Pun orang tak dikenal yang kebetulan berpapasan di jalan dan –sadar atau tidak- membantu saya untuk jadi lebih baik, tetap masuk dalam hitungan.

Merekalah raksasa-raksasa yang dibahunya saya berpijak.

.

Terima kasih untuk semua guru!

Yang saya maksud tentu adalah guru yang kalau kata orang Jawa mengandung arti ‘digugu lan ditiru’. Semua petuahnya teramat pantas untuk ditaati dan semua lakunya teramat pantas untuk diteladani.

Yang saya maksud adalah guru seperti yang tersebut dalam suatu quote:

Aku bersujud terima kasih pada kedua orang tuaku
Mereka yang telah menurunkanku dari langit ke bumi

Aku bersujud terima kasih pada semua guruku
Mereka yang mengangkatku dari bumi kembali ke langit

.

Terima kasih untuk semua guru!

Teramat sulit ternyata untuk menjadi guru yang adalah pendidik (bukan sekedar pengajar).

Guru yang memandang murid dihadapannya sebagai manusia yang unik dan bersama berupaya mengembangkan potensi intelektualitas dan personalitas yang dimilikinya dalam kerangka tujuan luhur.

Saya masih terkagum-kagum dengan Ki Hadjar Dewantara (pendiri Taman Siswa) yang telah menggabungkan pengalamannya akan pendekatan pendidikan barat dengan kearifan nasional dalam rangkuman ajarannya “Ing ngarsa sung tulada. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani” (Di depan memberi teladan. Di tengah membangkitkan kehendak dan peluang untuk berprakarsa. Di belakang memberi dukungan).

Betapa untuk bisa merealisasikan ajaran itu perlu tingkat pemahaman dan kebijaksanaan yang mumpuni.

.

Terima kasih untuk semua guru!

.

Advertisement