You are currently browsing the monthly archive for March 2011.

Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)

Tadinya hanya berniat mengantar anakku melengkapi buku untuk keperluan sekolahnya. Tanpa dinyana di sebuah rak toko buku mata saya tertumbuk pada buku fiksi  ’tua’ berjudul Bumi Manusia.

.

.

Roman pertama dari Tetralogi Buru.
Ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.
Cetakan ke-16.
535 halaman.
Lisan 1973.
Tulisan 1975.

Meski dari rumah sama sekali tidak ada rencana untuk beli buku, Bumi Manusia ini akhirnya masuk juga ke tas belanja.
Tiga perempat alasannya adalah untuk memuaskan rasa penasaran, seperempatnya lagi adalah untuk menutupi rasa malu.

‘Pram dan Tetralogi Buru’ bukanlah barang baru. Beberapa kali sudah mendengar dan membaca tentangnya. Tak pelak saat memegang, yang terbersit adalah rasa penasaran yang sangat untuk membacanya. Ditambah lagi dengan tulisan pada halaman muka pengantar buku, “Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang  Nobel Sastra.”

Malu? Ya, setidaknya saya malu pada diri sendiri.
Telah beberapa N-logi buku fiksi dari penulis dalam atau luar negeri yang tuntas saya baca. Sementara salah satu buku sastra Indonesia  monumental yang telah diterjemahkan kedalam 33 bahasa asing dan ditulis oleh penulis Indonesia yang telah diakui oleh komunitas sastra internasional dan mendapat banyak penghargaan ini belum pernah saya membacanya.

Jadilah hari Sabtu dan Minggu itu saya dedikasikan untuk menyapu bersih Bumi Manusia dari huruf pertama hingga titik terakhirnya.

Pilihan tema yang menusuk, gaya bertuturnya yang khas, tikungan-tikungan dalam alur cerita yang kadang mengejutkan telah menawan saya untuk dua hari itu.

Dua jempol untuk Pram.
Tapi apalah arti jempol saya dibanding deretan penghargaan kelas dunia yang disandangnya.

Ah biarlah… tetap dua jempol untuk Pram.

.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.