You are currently browsing the category archive for the ‘sok-tahu’ category.

Tidak jarang kita baca tulisan “jaga jarak aman” di bagian belakang kendaraan

.

.

Rasanya kita semua akan sependapat dengan tulisan tersebut. Demi keselamatan, memang harus dijaga jarak aman antar kendaraan agar jika ada kejadian mendadak (berhenti tiba-tiba dll), masih ada cukup jarak untuk melakukan aksi (mengerem, mengelak dll.)

Meski demikian, otomatis akan muncul juga pertanyaan: seberapa jauh jarak antar kendaraan yang bisa dikatakan sebagai jarak aman?
Jarak aman di jalan tol tentu akan berbeda dengan jarak aman di jalan kampung. Kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi tentu membutuhkan jarak yang besar dengan kendaraan di depan dan di belakangnya.

Ok, kita sepakat tentang hal itu. Tapi tetap saja pertanyaannya belum terjawab, seberapa besar jaraknya?
Dari pernyataan di atas, secara sederhana kita bisa punya simpulan bahwa jarak aman merupakan fungsi dari kecepatan kendaraan.

Jarak dan kecepatan punya hubungan erat dengan waktu. Dengan demikian kita mungkin saja mengganti (menyetarakan) istilah ‘jarak’ dengan ‘waktu’.
Mengapa demikian?
Bayangkan kita sedang berkendara, tiba-tiba kendaraan di depan kita berhenti mendadak. Spontan kita pun akan mengerem kendaraan kita agar tidak menabraknya.

Ada tiga faktor utama penentu berhasil / tidaknya proses pengereman tersebut, yakni:

  • seberapa cepat reaksi kita dalam melakukan pengereman
  • seberapa cepat kendaraan kita bisa berhenti
  • jarak antara kendaraan kita dengan kendaraan di depan (ini yang nantinya bisa kita setarakan dengan waktu -agar satuannya sama dengan 2 faktor yang lain-).

Untuk ‘menghilangkan’ faktor jarak -yang lebih sulit dihitung saat kita sedang berkendara-, kita gunakan waktu jeda antara kendaraan di depan dengan kendaraan kita sehingga tidak lagi terpengaruh oleh kecepatan.

Ternyata masalah tidak kemudian selesai. Kita punya pertanyaan baru: berapa jeda waktu antar kendaraan yang aman?

Meski tidak mudah, kita bisa dapatkan waktu ini dengan memperhitungkan rata-rata waktu respon manusia dan rata-rata waktu respon pengereman kendaraan. Syukurlah sudah ada yang meneliti. Waktu yang dianggap aman sebagai jeda antar kendaraan adalah 2 detik. Hal ini sering disebut sebagai “two-second rule”.

“Aturan” ini sangat mudah diaplikasikan saat berkendara. Tidak perlu pakai kalkulator segala (kebayang kalo nyetir sambil pencet-pencet kalkulator terus).

Caranya begini: untuk mengukur jeda waktu dengan kendaraan di depan, pertama pilih satu penanda di pinggir jalan (pohon, rambu, tumpukan batu atau apapun) di pinggir jalan yang akan terlewati. Saat kendaraan di depan tepat bersisian dengan penanda tadi, mulailah berhitung yang kira-kira setara dengan 2 detik (boleh dengan berucap pelan dalam hati “seribu dan satu, seribu dan dua”).

Jika setelah selesai berhitung, baru kendaraan kita bersisian dengan penanda, artinya kita berada pada “waktu aman”. Sebaliknya jika belum selesai berhitung, kendaraan kita sudah melewati penanda, artinya kita harus segera memperlambat untuk mendapat “waktu aman”. Mudah kan?

.

.

Dengan aturan ini, jarak aman akan otomatis tercapai sesuai dengan kecepatan kendaraan. Misal: jika kecepatan kita 30 km/jam maka kita akan punya jarak 16,7 m. Jika kecepatan kita 100 km/jam kita akan punya jarak 55,6 m.

Aturan dua detik tersebut berlaku saat kita berkendara dalam keadaan cuaca normal. Saat hujan lebat, keadaan gelap dll. akan lebih aman jika kita sesuaikan jadi aturan tiga detik atau bahkan aturan empat detik.
Jika kita terapkan dengan disiplin, insya Allah akan meningkatkan jaminan keamanan berkendara.

Repotnya, beberapa kali saat saya menerapkan aturan ini hingga di depan saya ada cukup ruang aman, tidak berapa lama akan ada kendaraan lain yang menyelinap masuk ke ruang aman tersebut (“hiduplah Indonesia Raya…”). Alhasil, saya harus mundur lagi, demikian seterusnya. Lama-lama sebel juga, dan akhirnya balik lagi ke kelakuan primitif: tekan gas, mepet ke kendaraan depan biar tidak disela lagi :(

Ayo dong.. Sama-sama pake two-second rule..
Di jalan kan safety harus selalu the first.

.

Suatu kali pernah saat akan sholat di kamar hotel saya kebingungan menentukan arah kiblat. Tanda panah penunjuk kiblat yang biasanya mudah kita jumpai di pojok langit-langit hotel atau di laci meja ternyata tidak ada.

Daerah itu (sebut saja kota Y) belum pernah saya datangi dan cukup jauh dari kampung halaman (sekian belas jam naik pesawat). Agak sulit juga berkomunikasi dengan orang-orang di situ (yang tentu saja mayoritas bukan muslim). Saya nanya ‘kiblat’ juga mereka cuma geleng-geleng kepala.

Matahari belum muncul, sementara saya jelas tidak bisa membaca arah dengan pedoman bintang.

Untungnya di travel bag sengaja ada kompas penunjuk kiblat plus buku manual kecilnya yang sengaja saya siapkan untuk kondisi seperti ini.

.

.

Selanjutnya langkah standar, cari kota Y dalam tabel di buku untuk melihat angka yang harus ditunjuk oleh jarum utara kompas. Kemudian posisikan kompas sedemikian rupa sehingga akhirnya bisa dapat arah kiblat.

Iseng-iseng saya pindah lokasi -meski masih tetap di dalam kamar-.

Lho kok jarum kompasnya tidak konsisten? Asumsi arah kiblat jadi berubah lagi.

Penasaran. Pindah lokasi lagi. Kejadiannya sama, jarum kompas menunjuk arah yang berbeda.

Weleh! Kamar hotel yang aneh!   @_@

Mengingat bangunan hotel ini cukup tinggi, saya punya dugaan bahwa besi-besi tulang betonnya sangat besar (dan / atau banyak) sehingga bisa mempengaruhi arah yang ditunjuk jarum kompas, atau ada hal lain di kamar hotel itu yang bisa mempengaruhi arah jarum kompas (apaan ya?)

Oke.. kalau begitu lupakan kompas.

Akhirnya saya nekat sholat menghadap ke arah yang saat itu saya yakini sebagai arah kiblat.

“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu”. (QS. al-Baqarah:115)

.

Yang saya alami tersebut ternyata adalah salah satu kelemahan penggunaan kompas dalam penentuan arah kiblat.
Karena sangat mengandalkan penunjukan jarum magnet, masalah akan timbul jika kompas digunakan pada daerah yang memiliki sesuatu yang dapat mengacaukan arah penunjukan jarum magnet (contoh: di daerah yang terdapat banyak unsur logam, baik alami maupun buatan).

Masalah penggunaan kompas magnetik ternyata tidak berhenti sampai disitu. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata kutub magnet bumi tidaklah diam di tempat. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1831, kutub utara telah bergerak rata-rata 15 km per tahun hingga tahun 1904. Penelitian tahun 1989 menunjukkan percepatan dalam pergerakannya. Bahkan pada tahun 2007, kutub utara magnet bumi sedang bergerak ke arah Siberia dengan kecepatan 55 hingga 60 km per tahun.[national geographic]

Kalau titik rujukan kompasnya bergeser, tentu saja arah yang ditunjukkannya juga tidak akan sama lagi secara geografis.

Penentuan arah menggunakan kompas biasanya berpanduan pada buku kecil yang memuat tabel kota-kota besar dunia berikut angka yang harus ditunjuk oleh ujung utara jarum magnet sehingga tanda kiblat pada kompas diperkirakan tepat mengarah ke kiblat.

Kalau saya perhatikan, beberapa buku pendamping kompas seperti itu usia cetaknya sudah cukup lama. Beberapa juga masih menggunakan ejaan lama (misal: masih ada yang menuliskan ‘Djakarta’).

Kita tidak tahu pasti kapan pengukuran / perhitungan dilakukan untuk mendapatkan angka yang tertulis di buku tersebut. Apakah sekarang angka tersebut masih valid, jika dikaitkan dengan fenomena pergeseran kutub magnet bumi?

Update angka di tabel dalam buku manual memang adalah salah satu solusi yang mungkin dilakukan. Tentu saja proses ini harus dilakukan secara berkala. Alternatif lain adalah penggunaan cara lain yang tidak melibatkan kompas dalam penentuan arah kiblat.

Ada sejumlah cara alternatif yang bisa dilakukan. Ada yang memanfaatkan posisi matahari, ada yang menyarankan penggunaan teknologi GPS, ada yang menggunakan citra satelit dll.

Dua perangkat yang sering saya gunakan adalah: software di handphone saya (Pocket Islam) yang salah satu fiturnya adalah penentu arah kiblat berdasar posisi matahari saat itu di lokasi tersebut, dan aplikasi penentu arah kiblat berbasis web (www.qiblalocator.com)

.

.

Mengirim email, sms, menulis di web tidak lengkap tanpa tanda  :-)    :-(     ^_^  dst. yang sering disebut dengan istilah emoticons. Dengan tanda-tanda khusus tersebut kita bisa memasukkan ekspresi emosi ke dalam tulisan kita.

Siapa bapak dari  :-)  dan  :-(   ?
Kapan dan dimana mereka dilahirkan?

// jawabnya gampang… baca aja akta kelahirannya…  :-)

Bapak dari  :-)  dan  :-(  adalah Scott E. Fahlman, seorang Research Professor of Computer Science pada Language Technologies Institute and Computer Science Department, Carnegie Mellon University.

Si kembar  :-)  dan  :-(  dilahirkan di CMU pada tanggal 19 September 1982.
Cerita kelahirannya bisa dibaca di sini, sementara arsip yang menyimpan bukti kelahirannya dapat dibaca di sini.

So, tahun ini  :-)  dan  :-(  sudah berusia 27 tahun.
Sudah cukup dewasa untuk kita gunakan secara dewasa pula dalam tulisan-tulisan kita.

// belum terlalu terlambat untuk mengucapkan “hepi berdei!”
// kepada mereka berdua

Membuat plat nomor yang lebih trendi dengan cara pesan sendiri ke kios pembuat plat nomor sedang jadi tren.

Salah satu masalahnya, ketrendian itu kadang mengubah kode nomor yang tertera pada plat, contohnya:

.

PIC_0010

.

Mana angka nol dan mana huruf O jadi tidak jelas.
Saya yakin, aslinya tertulis “B <sekian><nol><sekian><sekian> OQ”.

Penulisan angka nol memang harus dipastikan berbeda dengan penulisan huruf O, terutama penulisan dengan tangan.

Ada beberapa cara yang bisa dan biasa dilakukan untuk membedakan diantara keduanya:

  1. Menuliskan huruf O dengan lebih bundar daripada angka nol. Cara ini masih tetap bermasalah, terutama untuk tulisan tangan.
  2. Menggunakan dotted zero, seperti yang digunakan pada IBM 3270 dan digunakan pula pada typeface Andalé Mono
  3. Menggunakan slashed zero. Cara ini sepertinya yang paling banyak digunakan, terutama dalam tulisan tangan.
  4. Menggunakan reversed slash. dll.

.

.

Pastikan kita menulis dan membaca angka nol dan huruf O dengan benar untuk menghindari kesalahpahaman.

Tulisan memang hanya simbol untuk mewakili gagasan, tetapi jika kita tidak sepaham dengan aturan penulisan dan pembacaannya, kesalahan yang terjadi bisa menimbulkan bencana.

.

“Kok nggak ambil sambal?”
“Ini lho.. makan yang ini, pedes, enak…”

Sering kali kalo pas makan bareng, saya ditanya atau dikomentari seperti di atas. Emang sih saya gak suka makanan pedes. 
Dalam hati saya malah balik nanya,”Emang apa enaknya makan pedes? lidah panas, kalo gak kuat perut bisa rewel…”

But, that’s another story…
Saya malah penasaran dengan ‘apanya cabe sih yang bikin kerasa pedes?’

Jadilah nanya ke Om Wiki. Jawabannya: Capsaicin 

Wehehe… makhluk apa tuh. Pokoknya itu zat yang ada dalam cabe, dengan rumus kimia: (CH3)2CHCH=CH(CH2)4CONHCH2C6H3-4-(OH)-3-(OCH3))
Ampun deh… dah lupa lagi gimana bacanya :p
Zat ini yang bisa bikin lidah terasa panas. Bahkan nggak cuma lidah, zat inipun akan memberikan sensasi panas / terbakar kalau terkena  jaringan tubuh yang lain.

Hmm.. kalau ada zatnya, tentu kadar zat itu menentukan seberapa pedas cabe. 

Tanya Om Wiki lagi, “Om..om.. ada nggak skala yang mengukur tingkat kepedesan cabe?”.
“Ohh… tentu saja ada, Nak. Namanya Scoville scale.” 
“Oh gitu ya Om..”
“Iya Nak… Tapi ingat nak, scoville scale ini tidak berhubungan langsung dengan jumlah capsaicin yang ada dalam cabe”
“Lha.. terus gimana asal usulnya?”
“Baca sendiri aja deh… males amat…”
“Iya deh ommm…” 

 ”Om..om.. cabe yang paling gak pedes (skala 0) apaan?”
Bell pepper!” 

“Kalo yang paling pedeeeessss?”
“Ya… capsaicin murni laaah (skala 15.000.000  - 16.000.000)!!”
weits dah mulai galak nih si om…

“Kalo cabe yang paling pedeeeeessss, apa om?”
Naga Jolokia (skala = 1,041,427)!!! Udah sono ngapain kek… gak liat orang lagi kepedesan apa?”
ups.. ternyata si om lagi kepedesan makan tahu-isi plus cabe rawit

:D

Ngomong-ngomong tentang ‘peace’,rasanya gak ada yang belum pernah liat tanda beginian di kaos, liontin, gantungan kunci, stiker, iklan dll:

 

peace symbol

peace symbol

 

Coba tanya orang yang pakai kaos atau liontin dengan tanda itu, “Apa artinya?”. Paling banter jawabannya, “Pokoknya PEACE lah..”. Tanya lebih lanjut,”Dari mana asal-usul tanda itu?”. Bengong.

Simbol itu dirancang oleh Gerald Holtom, seorang perancang profesional dan seniman Inggris. Pak Holtom ini menggabungkan dua simbol semaphore:

 

sem_n      dan   sem_d

 

Masih bisa baca? inget pas Pramuka dulu yah.. :-)

sem_n = N
sem_d = D

sem_n    +   sem_d  =    peace symbol

 

Apa hubungannya ND dengan PEACE?
ND itu singkatan dari Nuclear Disarmament (pelucutan senjata nuklir). Awalnya memang simbol tersebut digunakan untuk demo anti senjata nuklir di London pada sekitar tahun 1958.

Pak Holtom pernah nulis gini -pas menceritakan kondisi penciptaan simbol itu dengan lebih rinci- :  ”I was in despair. Deep despair. I drew myself: the representative of an individual in despair, with hands palm outstretched outwards and downwards in the manner of Goya‘s peasant before the firing squad. I formalised the drawing into a line and put a circle round it.”

Kesini-kesininya sepertinya orang mulai tidak terlalu mempermasalahkan asal-usul simbol tersebut, sehingga penggunaannya meluas menjadi simbol umum untuk perdamaian.

So, yang penting PEACE maaannn….

Beberapa teman yang pernah datang ke rumah seringkali secara refleks bertanya, “Itu samurai betulan?”. Yang mereka tunjuk adalah pedang bersarung hitam yang aku gantung di dinding. Terus terang aku sedikit bingung menjawabnya. Lha wong yang aku gantung itu jelas-jelas pedang, bukan samurai.

Emang beda? ya iya laaaah…

Samurai tuh gini:

Sedangkan katana (salah satu jenis pedang Jepang) tuh gini:

Emang yang aku gantung di dinding sebetulnya adalah katana (atau boleh juga disebut pedang samurai). Bukan samurai. Masak orang digantung-gantung di dinding (ntar diam-diam bisa merayap …hap! lalu ditangkap :p )

Aslikah? ya asli laaahhh… belinya juga disono :-)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.