You are currently browsing the category archive for the ‘sok-techy’ category.

Suatu kali pernah saat akan sholat di kamar hotel saya kebingungan menentukan arah kiblat. Tanda panah penunjuk kiblat yang biasanya mudah kita jumpai di pojok langit-langit hotel atau di laci meja ternyata tidak ada.

Daerah itu (sebut saja kota Y) belum pernah saya datangi dan cukup jauh dari kampung halaman (sekian belas jam naik pesawat). Agak sulit juga berkomunikasi dengan orang-orang di situ (yang tentu saja mayoritas bukan muslim). Saya nanya ‘kiblat’ juga mereka cuma geleng-geleng kepala.

Matahari belum muncul, sementara saya jelas tidak bisa membaca arah dengan pedoman bintang.

Untungnya di travel bag sengaja ada kompas penunjuk kiblat plus buku manual kecilnya yang sengaja saya siapkan untuk kondisi seperti ini.

.

.

Selanjutnya langkah standar, cari kota Y dalam tabel di buku untuk melihat angka yang harus ditunjuk oleh jarum utara kompas. Kemudian posisikan kompas sedemikian rupa sehingga akhirnya bisa dapat arah kiblat.

Iseng-iseng saya pindah lokasi -meski masih tetap di dalam kamar-.

Lho kok jarum kompasnya tidak konsisten? Asumsi arah kiblat jadi berubah lagi.

Penasaran. Pindah lokasi lagi. Kejadiannya sama, jarum kompas menunjuk arah yang berbeda.

Weleh! Kamar hotel yang aneh!   @_@

Mengingat bangunan hotel ini cukup tinggi, saya punya dugaan bahwa besi-besi tulang betonnya sangat besar (dan / atau banyak) sehingga bisa mempengaruhi arah yang ditunjuk jarum kompas, atau ada hal lain di kamar hotel itu yang bisa mempengaruhi arah jarum kompas (apaan ya?)

Oke.. kalau begitu lupakan kompas.

Akhirnya saya nekat sholat menghadap ke arah yang saat itu saya yakini sebagai arah kiblat.

“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu”. (QS. al-Baqarah:115)

.

Yang saya alami tersebut ternyata adalah salah satu kelemahan penggunaan kompas dalam penentuan arah kiblat.
Karena sangat mengandalkan penunjukan jarum magnet, masalah akan timbul jika kompas digunakan pada daerah yang memiliki sesuatu yang dapat mengacaukan arah penunjukan jarum magnet (contoh: di daerah yang terdapat banyak unsur logam, baik alami maupun buatan).

Masalah penggunaan kompas magnetik ternyata tidak berhenti sampai disitu. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata kutub magnet bumi tidaklah diam di tempat. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1831, kutub utara telah bergerak rata-rata 15 km per tahun hingga tahun 1904. Penelitian tahun 1989 menunjukkan percepatan dalam pergerakannya. Bahkan pada tahun 2007, kutub utara magnet bumi sedang bergerak ke arah Siberia dengan kecepatan 55 hingga 60 km per tahun.[national geographic]

Kalau titik rujukan kompasnya bergeser, tentu saja arah yang ditunjukkannya juga tidak akan sama lagi secara geografis.

Penentuan arah menggunakan kompas biasanya berpanduan pada buku kecil yang memuat tabel kota-kota besar dunia berikut angka yang harus ditunjuk oleh ujung utara jarum magnet sehingga tanda kiblat pada kompas diperkirakan tepat mengarah ke kiblat.

Kalau saya perhatikan, beberapa buku pendamping kompas seperti itu usia cetaknya sudah cukup lama. Beberapa juga masih menggunakan ejaan lama (misal: masih ada yang menuliskan ‘Djakarta’).

Kita tidak tahu pasti kapan pengukuran / perhitungan dilakukan untuk mendapatkan angka yang tertulis di buku tersebut. Apakah sekarang angka tersebut masih valid, jika dikaitkan dengan fenomena pergeseran kutub magnet bumi?

Update angka di tabel dalam buku manual memang adalah salah satu solusi yang mungkin dilakukan. Tentu saja proses ini harus dilakukan secara berkala. Alternatif lain adalah penggunaan cara lain yang tidak melibatkan kompas dalam penentuan arah kiblat.

Ada sejumlah cara alternatif yang bisa dilakukan. Ada yang memanfaatkan posisi matahari, ada yang menyarankan penggunaan teknologi GPS, ada yang menggunakan citra satelit dll.

Dua perangkat yang sering saya gunakan adalah: software di handphone saya (Pocket Islam) yang salah satu fiturnya adalah penentu arah kiblat berdasar posisi matahari saat itu di lokasi tersebut, dan aplikasi penentu arah kiblat berbasis web (www.qiblalocator.com)

.

.

Tidak hanya Rahwana yang berwajah banyak, Internet pun ternyata akan menampakkan wajah yang berbeda jika dilihat dari sisi yang berbeda.

Coba masukkan query ‘tiananmen’ pada dua page Google berikut:
- images.google.co.id
- images.google.cn

ta..daa….
Dalam kasus ini Google untuk Indonesia dan Google untuk Cina menampakkan wajah Internet yang berbeda.
Saya sengaja mengambil contoh Google, mengingat saat ini bisa dibilang Google adalah salah satu ‘kacamata’ utama kita untuk ‘melihat’ isi Internet.

Contoh di atas adalah wajah Internet yang berbeda jika dilihat dari sisi yang berbeda pada satu waktu yang sama.
Wajah Internet pun berubah seiring masa.

Ada project yang menyimpan wajah Internet sebagai fungsi waktu. Semacam album kenangan Internet gitulah :-)
Salah satunya adalah www.archive.org. Masukkan URL situs yang ingin kita lihat snapshot-nya sekian tahun kebelakang.

Kita bisa lihat betapa polosnya page wikipedia di tahun 2001

.

Teknologi tinggi yang sudah teruji dalam skala lab maupun penerapan lapangan di negara maju tidak serta merta dapat diterapkan dengan mudah di Indonesia.

Kelakuan manusia Indonesia adalah salah satu faktor penghambat utama.

Ramai di media cetak, media elektronik, hingga obrolan di warung kopi membicarakan ketidaksempurnaan sistem pendukung pemilu, terutama penggunaan teknologi informasi. Salah satu yang dituding menjadi penyebab adalah Intelligent Character Recognition (ICR) yang mengawali proses tabulasi nasional.

 

 

ICR sendiri -seperti halnya sistem berbasis teknologi lain- memiliki margin kesalahan. Secara akademis, ada ICR yang pernah mencapai akurasi 99%. Tim TI KPU sendiri pernah menguji dengan kondisi ideal (katanya karena sejumlah keterbatasan) dan mendapatkan angka 95%.

Selain dari aspek teknis di dalam sistem, faktor input juga mempengaruhi akurasi ICR. Dalam hal ini, KPU pun sudah menyadarinya.
Cuplikan dari tipemilu2009.wordpress.com:
“… dari sisi pengguna, harus diperhatikan hal-hal sbb.
1. Tulislah angka sebaik dan sejelas mungkin
2. Angka harus ditulis di kotak yang ditentukan, jangan sampai melewati batas kotak
3. Kertas jangan sampai kotor, sobek atau terlipat
4. Jangan terbalik saat memasukkan kertas ke scanner”

 

Saya yakin sudah pula ada SOP untuk aktifitas yang berkaitan dengan ICR ini.

Entah karena ketidakpahaman terhadap cara kerja ICR, salah mengartikan SOP, atau memang tidak terbiasa disiplin mengikuti SOP, muncullah sejumlah kasus konyol dalam pengisian form C1-IT (input ICR)

Ada lagi yang lebih parah (pernah dimunculkan di salah satu acara dialog TV): angka yang sudah terlanjur ditulis di dalam kotak dicoret (mungkin ada kesalahan) kemudian angka yang benar dituliskan di sebelah kiri (di luar) kotak :-(  

 

Kembali ke masalah semula, -IMHO- setidaknya ada dua cara untuk menerapkan teknologi tinggi di Indonesia:

  1. Ada proses (pendidikan) untuk menjamin manusia Indonesia comply dengan teknologi, terutama dari sisi kelakuan
  2. Tiap akan mengimplementasikan teknologi, cermati profil penggunanya kemudian modifikasi teknologi tersebut agar betul-betul sesuai untuk penggunanya. (misal: tambahan modul untuk sanitasi dan normalisasi input)

Keduanya harus dilakukan.
Cara pertama dilakukan untuk tujuan jangka panjang. Sementara cara kedua dilakukan untuk tujuan jangka pendek.

.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sidang Tugas Akhir mahasiswa S1 IF dimana sebagian yang dikerjakannya berhubungan dengan pembandingan file teks untuk dicari kesamaan dan perbedaannya. Arahnya sih ke deteksi plagiat teks.

Salah satu pertanyaan saya, “Pernah dibandingkan dengan sistem lain yang serupa? minimal dengan fungsi yang dimiliki oleh MsWord?”
Jawabannya agak mengagetkan, “Emang di Word ada fitur seperti itu ya Pak?”
Halah… jangan-jangan selama ini sebagian besar kita masih memfungsikan aplikasi word processor hanya sebagai pengganti mesin ketik :-(

OK.. kembali ke laaap…*#&^%!!! (disensor biar nggak dikira membajak trade-mark mas ‘Renaldi’)

Di MsWord ada fitur yang bisa dipakai untuk membandingkan isi dua file. Bisa pilih pembandingannya mau di level kata atau huruf.

Di Word2007 tempatnya ada di tab Review – Compare:

review_compare1

 

Contoh: saya akan membandingkan isi dua file (Aku Ingin 1.txt dan AkuIngin 2.txt)

compare_docs

Aslinya memang fitur ini disediakan untuk melihat perubahan apa saja yang terjadi dari dokumen original ke dokumen revised, tapi bisa juga dipaksain untuk tujuan kita :-)

Beginilah hasil perbandingan yang dilakukan Word terhadap dua file tersebut:

compare_result

Ditampilkan di sisi kanan adalah isi dua file yang kita bandingkan.

Yang ditengah adalah dokumen yang menunjukkan letak persamaan dan perbedaannya. Yang bergaris bawah (underline) adalah kata baru yang muncul di dokumen revised. Yang dicoret (striketrough) adalah kata di dokumen original yang dihapus.

Di sisi kiri ditampilkan daftar semua perubahan yang terjadi (dan terdeteksi).

Pindah dari Word 2003 ke Word 2007 ternyata sedikit memusingkan.

Contoh konyol: saya nyari fasilitas untuk mengubah case tulisan (UPPER, lower, Sentence dll) gak ketemu-ketemu juga.

Nyari sampe ke site-nya Microsoft. Ternyata fasilitas itu tetap ada dan terletak di depan mata. Seperti gajah yang duduk manis di pelupuk mata sambil main biola (susah ngebayanginnya ya?).

Dimana? disini nih (tab Home, group Font):

 

 

Bisa juga pake shortcut shift+F3. Jika kombinasi tombol ini ditekan, akan toggle antara Sentence case, lower case, dan UPPERCASE.

Serupa tapi tak sama. Ada yang beda lho dibanding fasilitas change case di Word 2003. Apa coba?
Masih ingat di Word 2003 kita punya pilihan seperti ini:

 

 

 

Pilihan Title Case di Word 2003 digantikan dengan pilihan Capitalize Each Word di Word 2007. 

Hati-hati pakai pilihan Capitalize… ini. Salah-salah bisa disangka gak ngerti tata tulis.
Contoh:

  • buka Word 2007
  • tulis: the lord of the rings: the fellowship of the ring
  • select all
  • change case jadi Capitalize…

Jreengg… jadinya:  

The Lord Of The Rings: The Fellowship Of The Ring

karena kalimat itu adalah judul buku / film harusnya:  

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring

 

Aneh kan?
Ide siapa sih naruh Capitalize Each Word menggantikan Title Case?
Emang berapa banyak orang / seberapa sering kita perlu menjadikan semua awal kata jadi huruf besar? Bandingkan dengan mengubah ke Title Case…

Melanjutkan kepusingan dengan urusan ngopi contact XDA ke sim di post yang ini, akhirnya saya memberanikan diri sowan mbah kiyai Gugel (baca: google).

klak..klik..kluk.. ikuti beberapa thread di forum..
Ternyata banyak yang menemui masalah serupa :p 

Secara umum jawabannya gini: 
If not wm5, you can highlight multiple contacts, then tap/hold and save to sim.
If wm5, you can save individual contact entries by tap/hold each entry you want in the contacts list.
“ 

Hore.. ternyata ada caranya…
Unfortunately, XDA saya masih pake Windows Mobile 5 (bawaan sejak beli). So, ngopinya masih tetep satu-satu :-(

Weit.. tunggu dulu ada salah satu post di forum xda-developers.com yang menarik nih..
Om dotFred bikin  program PPCContactsMgr v1.6 
Description: PPCContactsMgr is a plugin for the Outlook contacts. It allows to select multiple contacts at once for deletion. Now it allows also to add phone numbers from calls history and received SMS. And recently, beam several contacts and add several contacts to SIM.

Patut dicoba nih…

Sekira sebulan setelah ulang tahunnya yang pertama, O2 XDA Atom Exec saya rada rewel. Gejalanya: panas dingin, pusing, perut mual.. (lho?).

 

He..he.. gejalanya rada bikin malu: tiap kali ditelpon, lawan bicara saya tidak bisa mendengar suara saya, sementara suaranya bisa saya dengar dengan jelas. Kebayang kan.. yang muncul cuma dialog “halo.. haloo.. haluuuu…” doang. Bikin malu aja (plus ngabisin pulsa orang :( ).

Dengan ini pula saya mohon maaf kepada sejumlah orang yang merasa tidak nyaman gara-gara kerewelan XDA saya itu. Kerusakan bukan pada handphone anda, bukan pada ketidakbecusan operator, dan bukan pula karena telinga anda kurang beres.

Setelah melakukan self-diagnostic tersangka utamanya adalah software pengendali audio. OK, kita coba soft reset. Ambil stylus, tonjok lubang reset pelan-pelan. Jrenggg… tetep belon bisa.
Hard reset? hmm.. musti backup dulu semua data, sms, dan contact ke laptop. Tonjok lagi atas bawah (power button & reset). Berhasil..berhasil..?? gak juga :-(

Aduh.. mulai panik nih. Telpon ke O2 shop di BEC. “Kami nggak terima service. Service centernya di Jakarta. Coba hubungi toko tempat beli dulu, kali aja bisa bantu”. Telpon toko tempat beli. “Kami juga nggak melayani service. Kalau mau titip boleh aja sih, tapi ntar juga tetep dikirim ke Jakarta. Biayanya sekian rupiah”. Nah lo…

Telpon temen-temen yang sering berurusan dengan PDA. Dapet beberapa alternatif tempat memperbaiki. Semuanya di daerah yang tidak saya lewati tiap hari, sementara show must go on. Akhirnya saya putuskan untuk -sementara- kembali pake handphone lama (SonyEricsson T610).

 

Dengan keterbatasan T610 saya memang tidak terlalu banyak berharap berkaitan dengan data dan sms yang telah saya backup. Sementara biarlah aman di tempatnya. Prioritas tertinggi sekarang adalah menyalin semua contact aktif ke handphone. T610 meski punya IrDa dan Bluetooth tapi belum support activesync, so gak bisa sinkronisasi contact dengan outlook di laptop. Berarti pilihan logisnya adalah menyalin via sim card.

Contact di XDA saya sinkronkan lagi dengan outlook. Kenapa? lha.. barusan kan di-hard reset. Blank lah dia. Polos, seperti bayi yang baru lahir, OK, contact di XDA dah sinkron. Sekarang tinggal ngopi semua contact di XDA ke sim card trus pindahin sim card ke T610, kopi semua isi contact di sim ke hp, beres… (gitu rencananya).

Saya mulai mencium bau angus… eh.. masalah saat setelah beberapa lama ngubek-ubek XDA tapi tidak juga menemukan sesuatu yang punya fasilitas untuk ngopi contact dari XDA ke sim card. Yang ketemu cuma ngopi dari sim card ke XDA. Nah lo… tuing..tuing… wakwawww…

Setelah beberapa puluh menit ngulik dan cari-cari di manual, akhirnya dengan berat hati saya memutuskan untuk ngopi sebagian contact di XDA ke hp dengan cara Flinstone. BEAM contact satu-satu!!! ampun… meski sudah berusaha memilah contact yang penting-penting aja, tetap masih banyak.. 200+. Kebayang kan.. betapa anehnya aktifitas itu… :-(

Saya masih terus bertanya-tanya, apakah memang tidak ada fasilitas di XDA untuk ngopi contact ke sim card? Kalau memang gak ada, untuk yang mau pake XDA dan hp backupnya gak bisa sinkronisasi dengan outlook harus siap-siap dengan resiko kejadian seperti saya ini.

Peace lah.. \/ ^_^ \/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.