You are currently browsing the category archive for the ‘sok-usil’ category.

Pagi tadi saya sempatkan untuk mampir ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cicadas [wikimapia] untuk setor SPT PPh(Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan) tahun pajak 2009.

Meski hampir tiap hari lewat di depan kantor itu, ternyata butuh usaha yang cukup besar hanya untuk membelokkan roda kemudi ke dalamnya. Bukan usaha secara fisik. Lebih ke usaha batin: mengalahkan rasa malas.

Malas? Ya, karena sebetulnya formulis 1721-A1 (Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan pasal 21) telah dicetak dan diberikan bagian keuangan kantor sejak beberapa waktu lalu.
Dengan sudah adanya formulir tersebut, mengisi SPT menjadi sangat mudah. Tinggal pindahkan angka di beberapa kotak ke formulir 1770 S.

Setelah itu? Masukkan amplop, serahkan ke petugas di meja penerimaan SPT. Kalau semua sudah oke, petugas akan memberikan tanda terima.
Beres deh!

Alhamdulillah. Saya tidak menemui kejadian seperti cerita teman yang perlu waktu 3 hingga 5 jam untuk menyelesaikan urusan SPT ini. Semua proses di kantor pajak tadi saya lalui dalam waktu tidak lebih dari setengah jam (itupun termasuk ngantri di meja penerimaan SPT).

Berikutnya apa?
Seperti motto DirJen Pajak: “Lunasi pajaknya, awasi penggunaannya”.

Caranya gimana ya?
Apa saja sih yang dibiayai oleh pajak?

Pertanyaan sederhana: apakah jalan raya juga dibiayai oleh pajak?
Kalau YA, dengan melihat kualitas jalan raya di Bandung, bagaimana kira-kira penggunaan pajak kita ini?
*semoga saya tidak sedang dalam status berburuk sangka dalam hal ini*

.

Coba tanya kepada sebarang orang Islam (anak kecil maupun yang telah berumur), “Berapa jumlah ayat Al Qur’an?
“Kemungkinan besar akan didapat jawaban: “6666″.
Tanya lagi, “Kata siapa?”
Jawaban tipikal, “Kata Pak Ustadz”
“Pernah ngitung sendiri?”
“Nggak lah! Ngapain? Emang gak percaya sama Pak Ustadz?”

Saya pun dulu -waktu masih SD kalau tidak salah- mendapat keterangan bahwa jumlah ayat dalam Al Qur’an adalah 6666.

Dengan berucap permisi (dalam hati) kepada Pak Ustadz, sesampai di rumah saya ambil mushaf Qur’an (terbitan Depag) dan kalkulator.

*tat..tit..tut..tit…tuuuut…* –> sound efek menjumlahkan semua ayat dalam 114 surat Al Quran

Lho…? hasilnya bukan 6666!

Jangan-jangan salah menjumlahkan…
Hitung ulang… *tit..tut..tit..tut…*
Yang tampil di layar tetap bukan 6666

Berapa?
Ternyata jumlah ayat dalam Al Quran adalah 6236 ayat

Dulu sih nggak berpikir terlalu panjang, “Mungkin pak Ustadz sedang keseleo lidah”.

Akhir-akhir ini kepikiran lagi.
Jangan-jangan pak Ustadz juga belum pernah ngitung sendiri. Jangan-jangan pak Ustadz juga mendapatkan informasi tersebut dari Ustadz-nya yang juga sedang keseleo lidah dan belum pernah menghitung sendiri.

Googling bentar…

Ternyata memang ada beberapa versi jumlah ayat Al Qur’an. Salah satu keterangan ada di sini. Tapi saya tetap belum menemukan satupun yang menyebutkan 6666. Asal-usul bilangan 6666 juga belum saya temukan.

Untuk menentukan jumlah ayat Al Qur’an, ada ilmunya juga katanya. Namanya ilmu Fawasil. Salah satu bahasan utama di dalamnya adalah bagaimana menentukan pemisahan (awal dan akhir) kalimat dalam Al Qur’an.

Terlepas dari disengaja atau tidaknya kesalahan turun-temurun “6666″ ini, kasus seperti ini mengingatkan kita untuk -sebisa mungkin- melakukan check & recheck terhadap informasi yang sampai kepada kita, dari siapapun informasi tersebut berasal.

.

Sekian bulan lalu, pada suatu acara pencarian bakat bernyanyi grup khusus ibu-ibu yang diadakan di suatu stasiun televisi nasional terjadilah dialog yang menarik antara ‘juri’ dengan grup yang difavoritkan lewat polling SMS.

Kurang lebih dialognya seperti ini:
“Suara kalian OK. Kenapa tidak rekaman?”
“Pernah punya niatan sih.. tapi nggak ada yang mau buatin rekaman album”
“Kenapa?”
“Wajah kami tidak cantik…”

*tuing…tuing…tuiiing….*
Namanya penyanyi kok diukur dengan kecantikan wajah…
Penyanyi itu modalnya suara, jadi ya selayaknya diukur suaranya.

Mungkin memang masyarakat kita yang agak tidak beres, sehingga seringkali mengukur kualitas sesuatu tidak dengan alat ukur yang seharusnya.

Karena itu mungkin, ramai-ramai para model, aktor/aktris dll. (yang nota bene dianugerahi fisik di atas rata-rata) menerjuni dunia tarik suara.
Karena itu mungkin, ramai-ramai para pesohor (yang dikenal lewat sinetron, dagelan, film, kasus kontroversial dll.) menerjuni dunia politik.
Karena itu mungkin, banyak orang yang tadinya berkecimpung di dunia A ramai-ramai menerjuni dunia B.

Bukannya tidak boleh pindah atau memperluas dunia tempat bergiat.
Hanya saja masing-masing kita harus mawas diri.
Modal apa yang kita miliki untuk bergiat di dunia tersebut.
Apakah kualitas kita betul-betul baik, ditinjau dari alat ukur yang tepat dan benar di masing-masing dunia tersebut?
.

“haree geneee gak mesbuuuk?”

“ayo gabung jamaah al-fesbukiyah…”

 

Entah sudah berapa teman yang melancarkan bujukan agar saya gabung di jaringan pertemanan Facebook (sori sebut merek nih).

Sebelum nulis lebih jauh, saya perlu sampaikan hormat saya pada teman-teman yang telah menggabungkan diri dalam jaringan pertemanan tersebut. Saya menghargai keputusan yang dilakukan dengan sadar dan pertimbangan asas manfaat yang pastinya sudah dilakukan dengan mendalam.

Saat ini saya memang belum punya motivasi cukup kuat untuk gabung. Entahlah, mungkin suatu saat nanti kala demam euphoria Facebook telah mereda, saya akan pikirkan kembali hal ini.

Euphoria?

Ya. Saya mengamati sebagian jamaah al-fesbukiyah (minimal di lingkungan yang saya kenal) menganut asas ‘fesbuk untuk fesbuk’ (polanya mirip dengan l’art pour l’art, art for art’s sake, ars gratia artis dkk.)

Gabung hanya karena fesbuk itu ada. Meluangkan waktu mesbuk (membaca sekian ratus status & komentar, menulis komentar-komentar pendek ala sms, berlomba punya teman terbanyak) hanya karena fesbuk bisa digunakan.

Menurut saya Social Networking adalah alat. Sesuatu alat memang bisa digunakan dengan sejumlah cara untuk mencapai sejumlah tujuan. Kalau alat digunakan hanya karena alat itu tersedia dan bisa digunakan, tanpa terlebih dahulu diawali dengan penetapan tujuan penggunaannya… hmm… saya tidak yakin akan manfaat yang bisa didapat.

Saya berprasangka baik bahwa teman-teman yang saat ini sudah mesbuk sedang berjuang mengoptimalkan pemanfaatan fesbuk dengan niat dan untuk sejumlah tujuan luhur

.

Sering terdengar kalimat “bla..bla…carut marut…bla..bla..”.
Sering pula terbaca kalimat “bla..bla…karut marut…bla..bla..”.

Apakah kata “carut” sama (sinonim) dengan “karut”?
Apakah “carut” berasal dari bahasa Inggris sehingga dilafalkan menjadi “karut”?

Penasaran nih…
Kata temen, kalau nggak tahu: nanya atau baca
Baca aja deh…

Buka lemari ijo. Ambil buku item tebel.
‘Kamus Umum Bahasa Indonesia’ susunan W.J.S. Poerwadarminta terbitan Balai Pustaka tahun 2003.

Dikenalkah kata “carut” dalam bahasa Indonesia?
Srek..srek..srek..
c..ca..car..carut..
halaman 216
carut = keji dan kotor (tt perkataan);
— marut = bermacam-macam perkataan yg keji-keji

Cek kata “karut”
Srek..srek..srek..
k..ka..kar..karut..
halaman 525
karut = kusut (kacau) tidak keruan;
— marut = kusut atau kacau tidak keruan; rusuh dan bingung; banyak bohong dan dustanya

Jadi.. pakai ‘c’ atau ‘k’?
Pakai ‘c’ boleh.. pakai ‘k’ pun boleh..
Asal tepat penggunaannya, karena kalau tidak tentunya akan membingungkan pembaca atau pendengarnya

.

// kasus lain: “pasca” atau “paska”? :-p

.

Q:
Meskipun Bandung sudah bisa dibilang kota agak metropolis –dari A sampai Z, dari alif sampai ya, dari alpha sampai omega semua ada–, ada satu hal yang sampai saat ini sangat sulit dicari di Bandung. Apa hayo?

A:
Jalan yang bagus, tidak banjir, dan tidak macet :-D

 

Snapshot kondisi jalan di Bandung:

 

Pada pemilu mendatang kita tidak lagi nyoblos, tapi nyontreng

cari18

Mari kita lihat pada hari-H nanti berapa orang yang menggunakan hak pilihnya dengan cara NYOBLOS PAKAI BALLPOINT   :-D  

Gimana dengan saudara-saudara kita yang tuna netra ya?
Gimana menjamin bahwa pas beliau-beliau nyontreng ballpoint-nya gak macet sehingga contrengannya berbekas seperti semestinya dan hak suaranya tersalurkan sebagaimana niat baiknya ikut pemilu.

Nyambung post saya yang lalu (“caleg atau caboy?“)…

Dengan model sosialisasi yang terjadi seperti sekarang ini saya kok merasa bahwa -disengaja atau tidak- mereka (para caleg) memaksa kita melakukan yang disebut oleh Malcolm Gladwell sebagai ‘thin slicing‘.

Dengan informasi yang amat terbatas, dalam Pemilu mendatang kita ‘dipaksa’ untuk menentukan pilihan. 
Masalahnya, pilihan ini tidak main-main. (Dengan izin Allah) Akan turut menentukan nasib kita sekian tahun ke depan. 

Adakah yang salah dengan ‘thin slicing’?
Dalam buku best seller-nya “Blink”, Gladwell memberikan sejumlah contoh dimana snap judgment dapat memberikan manfaat besar dan contoh lain yang justru mendatangkan mala petaka.

blink

 

Ada pula artikel di BBC News “Snap decisions sometimes the best
Yang perlu saya garis bawahi adalah kata sometimes

Rasanya memang ada syarat dimana dan kapan kita bisa mempercayai snap decision kita.

Apakah snap decision juga bisa dilakukan pada pemilu mendatang?
hmm….

.

.

Selamat ber-pemilu dengan senjata thin slicing :p

Mungkin cuma saya saja yang keterlaluan, tapi lihat deretan poster caleg di sepanjang jalan (gak peduli jalan protokol atau gang perumahan) yang muncul di pikiran saya malah pertanyaan, “Ini poster caleg atau poster calon coverboy/covergirl yang minta dukungan sms sih?”

Dari sekian meter kali sekian meter poster, yang dominan adalah foto (sebagian sudah melewati proses re-touch). Itupun saya nggak pernah tahu bapak X atau ibu Y ini siapa, sudah pernah melakukan apa, apa yang akan dilakukan dst. 

Itu titik ekstrim di salah satu ujung. Di ujung lainnya, saya pernah melihat poster yang tak kalah besar di satu perempatan yang cukup ramai. Isinya dominan tulisan (sekian ratus kata) dengan judul “Kontrak Politik Bpk X…”. Yang kepikiran,”Berapa ya pengguna jalan yang sempat membaca sampai selesai?”. Kebayang kan gimana baca sekian ratus kata sambil nyetir di perempatan ramai? Boro-boro baca poster, liat kiri-kanan depan-belakang aja udah kerepotan karena lalu lintas yang semrawut.

Kasihan amat para caleg… serba salah. Cuma masang foto dibilang coverboy. Sudah nulis kontrak politik, gak ada yang sempat baca….

Apa mungkin mereka harus melakukan kunjungan ke setiap rumah dari pintu-ke-pintu? Weleh… apa nggak mabok tuh yang punya rumah? Berapa caleg yang akan bertamu dengan masing-masing sekian puluh menit uraian politik (yang kadang sulit dimengerti orang awam kayak saya ini).

Duh..duh.. mau demokratis saja kok ya sulit amat sih?

Bat eniwei, kata teman saya, “tetap semangat!”
:D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.