You are currently browsing the category archive for the ‘tukang ndongeng’ category.

 animals-ii-print-c10069671 

Syahdan, terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan, menggali.

Sekolahpun dibuka dan menerima murid dari pelbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.

Tersebutlah salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci inipun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.

Setelah kasus yang menimpa Kelinci, ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama Elang. Elang jelas sangat pandai terbang. Namun ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.

Demikianlah kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan binatang kecil lain. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

Dongeng yang terdapat di buku ‘In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences’ (1987) karya Thomas Armstrong tersebut menarik untuk memahami teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) temuan Howard Gardner.

.
(dikutip dari pengantar penerbit yang ditulis oleh Hernowo dalam buku ‘Sekolah para Juara’ karya Thomas Armstrong)

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sidang Tugas Akhir mahasiswa S1 IF dimana sebagian yang dikerjakannya berhubungan dengan pembandingan file teks untuk dicari kesamaan dan perbedaannya. Arahnya sih ke deteksi plagiat teks.

Salah satu pertanyaan saya, “Pernah dibandingkan dengan sistem lain yang serupa? minimal dengan fungsi yang dimiliki oleh MsWord?”
Jawabannya agak mengagetkan, “Emang di Word ada fitur seperti itu ya Pak?”
Halah… jangan-jangan selama ini sebagian besar kita masih memfungsikan aplikasi word processor hanya sebagai pengganti mesin ketik :-(

OK.. kembali ke laaap…*#&^%!!! (disensor biar nggak dikira membajak trade-mark mas ‘Renaldi’)

Di MsWord ada fitur yang bisa dipakai untuk membandingkan isi dua file. Bisa pilih pembandingannya mau di level kata atau huruf.

Di Word2007 tempatnya ada di tab Review – Compare:

review_compare1

 

Contoh: saya akan membandingkan isi dua file (Aku Ingin 1.txt dan AkuIngin 2.txt)

compare_docs

Aslinya memang fitur ini disediakan untuk melihat perubahan apa saja yang terjadi dari dokumen original ke dokumen revised, tapi bisa juga dipaksain untuk tujuan kita :-)

Beginilah hasil perbandingan yang dilakukan Word terhadap dua file tersebut:

compare_result

Ditampilkan di sisi kanan adalah isi dua file yang kita bandingkan.

Yang ditengah adalah dokumen yang menunjukkan letak persamaan dan perbedaannya. Yang bergaris bawah (underline) adalah kata baru yang muncul di dokumen revised. Yang dicoret (striketrough) adalah kata di dokumen original yang dihapus.

Di sisi kiri ditampilkan daftar semua perubahan yang terjadi (dan terdeteksi).

Tulisan berikut adalah petikan post di salah satu milis kuliah saya (Pengantar Teknik Informatika) untuk mahasiswa tahun pertama.

angga_…@….com menulis:

 

pak saya gak tahu format odp itu apa?
tolong dijelasin ya pak

Untuk distribusi slide kuliah saya memang menyediakan tiga format, yaitu: .pptx, .pdf, dan .odp.

Jawaban singkat saya:

ODP = OpenDocument Presentation

.odp adalah ekstensi file presentasi sesuai dengan standar internasional,

yaitu: ISO/IEC 26300:2006 Open Document Format for Office Applications (OpenDocument) v1.0.

 

Open Document Format (ODF) sendiri adalah kumpulan format dokumen office:

.odt –> word processing (text) documents
.ods –> spreadsheets
.odb –> object-oriented database
.odp –> presentations
.odg –> graphics
.odf –> formulae, mathematical equations

 

Mengapa perlu standar internasional untuk file office?

Salah satu kasusnya adalah yang diusulkan oleh anzen…@….com via milis ini dengan judul post: file office, sbb:

“mohon bantuannya agar materi yang disediakan juga dapat dibuka oleh office 2003 ke bawah”

 

Dari post itu saya menduga bahwa anzen menggunakan office 2003 di komputernya sehingga kesulitan saat harus membuka file .pptx yang saya buat dengan office 2007.

 

Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi jika semua orang didunia ini menggunakan aplikasi office yang mendukung format standard dan menyimpan file office-nya dalam format standar, terutama saat akan dipertukarkan dengan orang lain.

 

Ilustrasinya begini:

Si A menggunakan office 2003 sehingga untuk keperluan sendiri ia menyimpan file office-nya dalam format .doc, .xls, .ppt dst
Si B menggunakan office 2007 –> .docx, .xlsx, .pptx dst
Si C menggunakan openOffice –> .sxw, .sxc, .sxi
Si D menggunakan StarOffice –> .sdw, .sdc, .sdp

 

Saat empat orang itu saling bertukar file office sesuai dengan format native masing-masing aplikasi, muncul masalah (incompatibility).

 

Disinilah peran format standar. Meskipun secara native masing-masing aplikasi memiliki format sendiri-sendiri, jika semuanya mendukung format standar, maka dimungkinkan untuk menyimpan file office tersebut dalam format standar sehingga akan bisa dibaca oleh aplikasi lain (yang juga mendukung format standar)

 

Dengan openoffice (bisa download gratis di www.openoffice.org ) kita bisa langsung simpan file office dalam format odf.

Kalau yang masih suka pakai MSOffice, file .doc/docx, .xls/.xlsx, .ppt/.pptx dll bisa kita export menjadi format .odt, .ods, atau .odp dengan bantuan plug-in dari pihak ketiga (bukan Microsoft). Salah satunya bisa didapat dari SUN microsystem ( www.sun.com/software/star/odf_plugin/ ).

 

Diharapkan dengan dukungan semua pihak terhadap format file office standar ini, kita tidak lagi akan tergantung pada satu aplikasi office dari vendor tertentu. Singkatnya: kita hilangkan ketergantungan data (dokumen) terhadap aplikasi baca-tulisnya

 

Selengkapnya bisa baca di:

- http://en.wikipedia.org/wiki/OpenDocument

- http://www.odfalliance.org/

  

</FAZ>

 

Ayo kita merdekakan dokumen office kita dari penjajahan aplikasi office manapun!!!

 

“cuma gini aja”

Ada dua kejadian dimana saya senang sekali jika bisa mendengar kalimat itu. Satu biasanya diucapkan dengan nada tanya, “cuma gini aja?”. Satu lagi diucapkan dengan agak takut dan malu-malu, “cuma gini aja…”

Kalau “cuma gini aja…” yang diucapkan dengan niat dan/atau nada merendahkan tentu saja tidak termasuk dalam kesenangan saya.

Yang pertama -dengan tanda tanya- seringkali terlontar dari orang yang saya bantu untuk mengerti akan sesuatu atau melakukan sesuatu. Sampai suatu titik dimana dia -mungkin tanpa sadar- mengatakan “cuma gini aja?”, saat itulah saya berkesimpulan dia sudah mengerti atau sudah bisa melakukan. 

Yang kedua -dengan agak takut dan malu-malu- seringkali terlontar dari mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya. Kejadiannya biasa terjadi justru saat penelitiannya hampir final. Teori sudah dibaca, semua langkah penelitian sudah dilakukan, data sudah terkumpul, analisis sudah lengkap, kesimpulan matang. Justru pada detik-detik itu beberapa mahasiswa datang ke saya dengan kalimat “cuma gini aja…”.
“Saya gak pede, Pak. Mosok TA saya cuma gini aja…”

Kenapa saya senang?
Pada saat sudah bisa bilang “cuma gini aja?” atau “cuma gini aja…”, saya berasumsi pengetahuan, kemampuan, dan segala macam tetek bengeknya itu sudah mulai terinternalisasi ke dalam dirinya.  Semua berkat ijin Allah dan perjuangannya selama beberapa waktu sebelumnya.
Dia tidak lagi merasa pengetahuan, kemampuan dll itu sebagai sesuatu yang istimewa lagi. Dia sudah merasa itu semua menjadi bagian dari dirinya. Padahal -bisa jadi- buat orang lain hal-hal tadi masih merupakan sesuatu yang mencengangkan.

Setelah kasak-kusuk ba..bi..bu.. akhirnya semester ini saya dapet jatah mendongeng di satu kelas Pengantar Teknik Informatika.
Kuliah apaan tuh? (meneketehe… )
Sekarang saya lagi gak pengen cerita tentang isi kuliah PTI. Saya lagi pengen cerita tentang nonton bareng.

Sesi kuliah hari ini diisi dengan aktifitas nonton film bareng. Bukan Ayat-ayat Cinta, masak ikutan pejabat nonton bareng AAC :p
Bertempat di ruang rapat Dept IF yang fasilitas multimedianya lumayan, jadilah jam 7 pagi bergelap-gelapan nonton film Takedown atau Trackdown (cuman beda judul doang)

Katanya kuliah kok malah nonton film?

he..he.. minggu ini adalah minggu “Ethics for Computer Scientist”.
Di film ini dengan mudah bisa dilihat black-hat hacker vs white-hat hacker.
Terlihat pula bahwa ilmu informatika adalah salah satu dari sekian ilmu yang berpotensi bahaya.
Di tangan pendekar lurus bersih, ilmu itu bisa mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kemanusiaan.
Di tangan pendekar berwatak jahat, tanpa ampun ilmu tersebut bisa jadi senjata penghancur.

Sebagian besar ilmu adalah netral.
Niat dan bagaimana penggunaannyalah yang menjadikan dia menjadi ilmu putih atau ilmu hitam.

Tadinya mau ada fotonya, cuman sayang pas diperlukan camdig saya ngadat :-(
So, bayangin aja deh…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.