“[Our] life is [always in] beta [version]”

(terdengar pada suatu brainstorm tentang riset)

// beta as in SW release life cycle

Saya tidak ingin melihatnya dari sisi pesimis, dimana hidup kita tidak akan pernah mencapai versi 1.0, tidak akan pernah (dianggap) mencapai status sempurna.

Justru berada di versi 0.9 senantiasa menuntut kita untuk berupaya maksimal dalam memperbaiki bug dan melengkapi fitur.

Kalau boleh saya malah ingin menawarkan modifikasi dari quote di atas, yakni:

Our life is in perpetual beta

.

Google seringkali mengagetkan saya dengan projek-projeknya. Pagi ini saat mau cek email di gmail.com di bagian kiri bawah ada pengumuman tentang projek baru google: gmail motion

.

.

Karena penasaran, langsung klik di ‘learn how…’-nya yang membawa kita ke halaman http://mail.google.com/mail/help/motion.html

Ternyata idenya adalah berinteraksi dengan gmail tidak lewat keyboard maupun mouse, melainkan dengan gerakan badan kita yang dideteksi menggunakan web-cam. Lucu juga idenya!

.

.

Orang-orang yang terbiasa duduk seharian di depan komputer akan bangkit dan membuat gerakan-gerakan layaknya senam untuk membuka, membaca, membalas email dll.

.

.

Terlepas dari nanti akan dipakai atau tidak, saya langsung berniat untuk mencoba. Sebagian karena alasan “lucu-lucuan”, sebagian karena penasaran ingin tahu sudah sampai sehebat apa google lab membuat algoritma dan aplikasi human movement detection.

Klik “Try Gmail Motion”.

Nunggu loading bentar, dan yang muncul adalah….

.

.

Ha..ha…ha….. kena dikibuli sama Google…🙂

Tapi gak fair juga… di Indonesia kan sudah tanggal 2 April, sehingga saya sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk pengibulan seperti ini. Harusnya liat tanggal lokal dulu dong kalau mau bikin April Fools! ;p

Google ngitung dan nge-track kali ya berapa orang yang sudah terkibuli oleh guyonan yang dirancang serius ini.

Btw, ide-ide ‘gila’ semacam ini bukan tidak mungkin untuk coba diwujudkan.
Justru dunia tetap haus dengan ide yang menembus batas kebiasaan.

.

 

Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)

Tadinya hanya berniat mengantar anakku melengkapi buku untuk keperluan sekolahnya. Tanpa dinyana di sebuah rak toko buku mata saya tertumbuk pada buku fiksi  ‘tua’ berjudul Bumi Manusia.

.

.

Roman pertama dari Tetralogi Buru.
Ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.
Cetakan ke-16.
535 halaman.
Lisan 1973.
Tulisan 1975.

Meski dari rumah sama sekali tidak ada rencana untuk beli buku, Bumi Manusia ini akhirnya masuk juga ke tas belanja.
Tiga perempat alasannya adalah untuk memuaskan rasa penasaran, seperempatnya lagi adalah untuk menutupi rasa malu.

‘Pram dan Tetralogi Buru’ bukanlah barang baru. Beberapa kali sudah mendengar dan membaca tentangnya. Tak pelak saat memegang, yang terbersit adalah rasa penasaran yang sangat untuk membacanya. Ditambah lagi dengan tulisan pada halaman muka pengantar buku, “Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang  Nobel Sastra.”

Malu? Ya, setidaknya saya malu pada diri sendiri.
Telah beberapa N-logi buku fiksi dari penulis dalam atau luar negeri yang tuntas saya baca. Sementara salah satu buku sastra Indonesia  monumental yang telah diterjemahkan kedalam 33 bahasa asing dan ditulis oleh penulis Indonesia yang telah diakui oleh komunitas sastra internasional dan mendapat banyak penghargaan ini belum pernah saya membacanya.

Jadilah hari Sabtu dan Minggu itu saya dedikasikan untuk menyapu bersih Bumi Manusia dari huruf pertama hingga titik terakhirnya.

Pilihan tema yang menusuk, gaya bertuturnya yang khas, tikungan-tikungan dalam alur cerita yang kadang mengejutkan telah menawan saya untuk dua hari itu.

Dua jempol untuk Pram.
Tapi apalah arti jempol saya dibanding deretan penghargaan kelas dunia yang disandangnya.

Ah biarlah… tetap dua jempol untuk Pram.

.

Mendengar siaran radio yang menemani perjalanan pagi dari rumah, saya baru sadar bahwa hari ini (25 Nov 2010) adalah Hari Guru Nasional (HGN) yang ke-65.

Terlepas dari sejarah HGN yang penetapannya melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 maupun beribu cerita suka-duka kehidupan guru di Indonesia, yang berkilas-kilas di pikiran saat mendengarnya adalah gambaran para guru yang berkontribusi membentuk saya yang sekarang ini.

Diakui atau tidak, siapapun kita sekarang ini sedikit banyak dipengaruhi oleh guru seperti apa yang membentuk kita.

Terima kasih untuk semua guru!

Dengan sedikit memaksa, saya bisa pinjam penyataan Newton yang sangat terkenal –dalam suratnya kepada Robert Hooke bertanggal 5 Februari 1676–, “… If I have seen a little further it is by standing on the shoulders of Giants. …”

Saya tidak membatasi istilah ‘guru’ hanya untuk beliau yang membimbing saya mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas. Saya membuka istilah tersebut untuk semua yang membantu saya menjadi lebih baik, baik dalam kerangka formal maupun informal.

Ayah dan ibu yang mengajari dan mendoakan saya untuk jadi orang yang lebih baik sejak dalam kandungan. Para penulis yang bukunya menginspirasi. Teman diskusi yang perbincangannya membuka cakrawala baru. Pun orang tak dikenal yang kebetulan berpapasan di jalan dan –sadar atau tidak- membantu saya untuk jadi lebih baik, tetap masuk dalam hitungan.

Merekalah raksasa-raksasa yang dibahunya saya berpijak.

.

Terima kasih untuk semua guru!

Yang saya maksud tentu adalah guru yang kalau kata orang Jawa mengandung arti ‘digugu lan ditiru’. Semua petuahnya teramat pantas untuk ditaati dan semua lakunya teramat pantas untuk diteladani.

Yang saya maksud adalah guru seperti yang tersebut dalam suatu quote:

Aku bersujud terima kasih pada kedua orang tuaku
Mereka yang telah menurunkanku dari langit ke bumi

Aku bersujud terima kasih pada semua guruku
Mereka yang mengangkatku dari bumi kembali ke langit

.

Terima kasih untuk semua guru!

Teramat sulit ternyata untuk menjadi guru yang adalah pendidik (bukan sekedar pengajar).

Guru yang memandang murid dihadapannya sebagai manusia yang unik dan bersama berupaya mengembangkan potensi intelektualitas dan personalitas yang dimilikinya dalam kerangka tujuan luhur.

Saya masih terkagum-kagum dengan Ki Hadjar Dewantara (pendiri Taman Siswa) yang telah menggabungkan pengalamannya akan pendekatan pendidikan barat dengan kearifan nasional dalam rangkuman ajarannya “Ing ngarsa sung tulada. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani” (Di depan memberi teladan. Di tengah membangkitkan kehendak dan peluang untuk berprakarsa. Di belakang memberi dukungan).

Betapa untuk bisa merealisasikan ajaran itu perlu tingkat pemahaman dan kebijaksanaan yang mumpuni.

.

Terima kasih untuk semua guru!

.

Tanggal 1 Oktober 2010 lalu (bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila), seumur-umur tinggal di Bandung baru pertama kali saya masuk dan berkesempatan ikut prosesi pemakaman ala militer di Taman Makam Pahlawan Bandung [wikimapia] untuk seorang tetangga.

Beliau adalah seorang purnawirawan TNI dengan -kalau tidak salah- 6 bintang jasa/kehormatan, salah satunya adalah bintang gerilya. Dari obrolan di rumah duka, bintang jasa/kehormatan itulah yang menjadi faktor utama mengapa beliau layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

.

.

Jenazah dan iringannya disambut dengan tembakan salvo di gerbang TMP. (sempat rada kaget juga, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya).

Setelah protokoler standar militer dan lagi-lagi tembakan salvo, jenazah “dikembalikan ke haribaan ibu pertiwi beserta dengan jasa dan pengabdiannya”.

.

.

Setelah upacara selesai, pelayat berpamitan kepada keluarga almarhum.

Sambil jalan-jalan, saya menemukan hal yang agak janggal:

.

.

Kalau tulisan pada nisan tersebut benar, seharusnya yang bersangkutan belum berada di Taman Makam Pahlawan pada waktu itu (1 Okt 2010).

Saat kami sampaikan hal ini ke pengurus TMP, dengan santai beliau menjawab, “Oh.. itu pasti salah tulis. Nggak papa lah.. yang penting amalnya diterima Allah.” sambil menepuk puncak nisan putih itu.

.

Masih dalam perjalanan ngider berkunjung ke rumah saudara.

Suatu saat tiba waktu Ashar, kami (saya dan beberapa kakak) jamaah sholat di sebuah musholla kecil.

Selesai sholat dan rangkaiannya, pandangan saya tertumbuk pada karung berisi setengah penuh yang berada di mihrab tampat imam biasa memimpin sholat.

.

.

Daripada penasaran, saya beranikan diri menjulurkan tangan menyentuh sedikit sekedar untuk mengetahui isinya.

Dan… sodara-sodara… ternyata karung itu berisi kerikil.

Kerikil?
Ya.. kerikil.

Apa yang dilakukan kerikil di mihrab?
Atau lebih tepatnya: apa kira-kira yang dilakukan imam dengan kerikil setengah karung di mihrabnya itu?

“Sangu mati-nya imam”, kata salah seorang kakak.

“Sangu mati” = bekal saat nanti sang imam dijemput malaikat maut

Ternyata kerikil yang ada dalam karung itu menunjukkan berapa banyak amal (terutama wirid/dzikir) yang telah dilakukan sang pemiliknya. Tiap kali selesai berwirid sekian ribu kali, dimasukkanlah satu buah kerikil ke dalam karung.

Wow!
Melihat isi karung itu, terbayang berapa banyak “sangu mati” yang sudah dikumpulkan oleh sang imam.

Biasanya saat sang empunya meninggal, karung “sangu mati” tersebut juga turut diarak ke pemakaman dan ikut dimasukkan ke dalam liang lahat bersama dengan jenazah.

Hmm..
Seakan Allah bisa lupa dengan amal yang telah dilakukan dan hitungannya.
Seakan catatan malaikat tidak cukup akurat hingga perlu dibantu dengan kerikil.

Btw, fenomena karung “sangu mati” ini adalah salah satu kebiasaan di masyarakat Islam tradisional yang mungkin diawali dari penafsiran yang terlalu kaku terhadap perintah memperbanyak amal shalih dan bahwa nanti Allah akan melakukan perhitungan terhadap amal kita selama hidup.

.

Berkunjung ke rumah saudara selain memperkuat silaturahim, kadang juga memberikan kejutan-kejutan kecil.

Di dua rumah yang berbeda, saya masih menemui pesawat televisi jaman dulu. Televisi hitam putih yang bisa ditenagai oleh listrik AC 110 volt maupun dengan listrik DC (biasanya pakai aki mobil). Salah satunya bahkan hanya mampu menangkap siaran televisi pada rentang VHF.

.

.

.

Yang lebih mengejutkan adalah salah satunya bermerek “Intel”.

Saya belum pernah tahu kalau Intel yang sekarang kita kenal sebagai produsen mikroprosesor dan beragam chip untuk berbagai peralatan elektronik, dulunya pernah juga memproduksi pesawat televisi. Setidaknya hal itu tidak saya temukan di situs resminya Intel.

Apakah “Intel” yang membuat televisi tersebut adalah juga Intel Corporation yang didirikan tahun 1968 oleh Gordon E. Moore dan Robert Noyce?

Sebenarnya…. saya ini adalah…. intel!” (courtesy of Opera Van Java)

😀

.

5L – Tradisi Idul Fitri di Jawa:

  1. Libur
  2. Labur
  3. Luber
  4. Lebar
  5. Lebur

:: LIBUR

Orang Jawa biasanya akan menyempatkan atau mengatur waktunya agar menjelang dan beberapa hari saat Idul Fitri betul-betul bisa keluar dari rutinitas kerjanya dan melakukan aktifitas yang khas selama Idul Fitri tersebut

:: LABUR

Istilah ‘labur’ dulu saya kenal berhubungan dengan aktifitas melumuri dinding rumah atau pagar dengan larutan kapur. Secara luas istilah ini bisa dikembangkan menjadi mempercantik tempat tinggal dan lingkungan sekitarnya.

Orang Jawa akan dengan suka ria memperindah rumah dan sekelilingnya untuk menyambut Idul Fitri.

//untung ada Idul Fitri, setidaknya setahun sekali rumah dibagusin🙂

:: LUBER

Menjelang dan saat Idul Fitri orang biasanya akan lebih mudah berbagi rizqi dengan orang lain. Kebahagiaan yang dipunyai akan dengan mudah diluberkan kepada sekelillingnya.

Yang paling mudah kelihatan adalah kebiasaan memberi uang untuk anak, saudara, keponakan ataupun berbagi makanan dengan tetangga.

:: LEBAR

Setelah menjalankan ibadah Ramadhan sebulan penuh, 1 Syawal biasanya akan disambut dengan perayaan yang cukup meriah. Mulai dari persaingan kembang api hingga yang perayaan yang sifatnya lebih spiritual dan hakikat.

:: LEBUR

Orang Jawa membiasakan diri untuk memperbaharui jalinan silaturahim saat Idul Fitri. Saling bermaafan melebur ganjalan rasa dan dosa sesama manusia menjadi menu utama dalam aktifitas ini, bahkan dengan orang yang mungkin hanya sempat ditemuinya setahun sekali.

.

(terinspirasi dari khutbah Jumat 1 Syawal 1431H)

“Beri aku pelajaran yang paling sulit sekalipun, Boi. Aku akan belajar”

Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasainya akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.

[Andrea Hirata, Cinta di Dalam Gelas (novel kedua dwilogi Padang Bulan), Mozaik 21 “Guru Kesedihan”]

Pernah tahu yang namanya hidran?
Yup! betul.. yang kayak gini .
Mobil pemadam kebakaran dirancang untuk mengisi ulang air dalam tangkinya lewat benda ini.

Coba tebak ada berapa banyak hidran di kota Bandung?
hint: luas kota Bandung = 16.730 ha, jumlah penduduk lebih dari 2,3 juta

Jawab: ada 500 hidran  *fiuuh.. cukup banyak*

Pertanyaan berikutnya: dari 500 itu, berapa yang masih berfungsi?
*tuing..tuing….*

Jawab: 13 buah (2,6%)

Karena di Indonesia, pertanyaan dilanjutkan: dari 13 itu, berapa yang masih berfungsi sesuai standar kesigapan pemadam kebakaran?

Jawab: TIDAK ADA.

Tidak ada?

Ya. Dari 13 hidran yang masih bisa berfungsi tersebut, ternyata hanya 1 yang bisa digunakan oleh petugas pemadam kebakaran. Yang satu itu ada di jalan Supratman. Tidak heran jika pas ada kebakaran, mobil pemadam akan mondar-mandir di sekitar jalan itu.

Satu-satunya hidran yang bisa digunakan itupun tidak memenuhi standar kesigapan pemadam kebakaran. Jika mengikuti standar, pengisian tangki mobil pemadam (sekitar 4000 liter) menggunakan hidran akan memakan waktu antara 3 hingga 5 menit. Kenyataannya, pasokan air di hidran tersebut hanya mampu mengisi tangki dalam waktu 10 menitan.

Hmm.. 5 menit untuk orang melamun tidak akan terasa artinya. Dalam proses pemadaman api, 5 menit bisa jadi adalah pemisah lebar antara hasil akhir ‘terselamatkan’ dan ‘tidak’.

.

So..?
gak tau.. saya cuma mau sharing saja..🙂

.

(dari topik obrolan yang saya dengar dari radio tadi pagi)